10. Noi The Albino

Bayangkan: kamu adalah nenek yang tinggal berdua dengan cucu seorang albino dan suatu pagi si albino nggak mau bangun untuk sekolah. Kamu bisa apa? Di film ini, si nenek menembakkan senapan ke arah luar jendela supaya si albino bangun. Begitulah. Film asal Irlandia ini sangat getir. Kamu akan tahu rasanya dipinggirkan dan disepahkan. Tapi, santai. Noi, nama si albino itu, akhirnya bisa menggaet perempuan cantik penjaga kasir. Noi mengajari si cantik merokok! Maklumilah. Irlandia dingin!

9. A Ghost Story

Trust me, ketika kamu berpisah dengan kekasihmu yang mati mengenaskan, kekasihmu itu tidak benar-benar berpisah denganmu. Ia ada, menguntitmu, dan selalu mencintaimu. Kekasihmu jadi tak kasat mata. Seperti cintanya yang selalu.

8. The Killing of a Sacred Deer

“Sekeras apapun pikiranmu untuk menjadi orang naif, kamu nggak akan bisa jadi orang naif,” ujar Martin, remaja yang sikapnya aneh, kepada Steven, dokter bedah yang beberapa hari ini sedang berduka: kedua kaki dua anaknya lumpuh tak berdaya. Yorgos bukan sekadar sutradara dan penulis naskah film ini. Hei, dia filsuf. Post-modernisme? Post-feminisme? Eksistensialisme anti-materialisme? Terlalu banyak celoteh nanti, Nak. Coba baca ini: “Pembunuhan Seekor Rusa Keramat”? Itu transliterasinya. Beberapa ulasan bilang bahwa ada kaitannya dengan mitologi Yunani. Yang jelas aku percaya perkataan Martin setelah ia menggigit lengannya sendiri karena sebelumnya ia menggigit tangan Steven. “Ini metafor! Ini simbolik!” (HAHA.)

7. I, Daniel Blake

Kamu renta tapi negara maju bernama Inggris mempersulitmu menjadi pribadi yang disantuni. Protes memang bukan solusi tertepat untuk negara. Tapi, mencoret tembok dengan tingkah vandalmu akan sedikit melegakan. Terlebih ada namamu yang kamu tulis. Jadi, berpikir matanglah dan pahami bahwa “Menjadi kaya di Indonesia lebih baik daripada jatuh dan mati miskin di Britania Raya.”

6. Dunkirk

Premisnya Christopher Nolan selalu menjual dan tidak jauh dari estetika: Ketika 400.000 tentara perang gagal pulang ke rumah, maka, rumah yang akan menjemput mereka. Makna rumah tidak melalu harus diceritakan dengan setting keluarga atau LDR. Perang adalah lingkup paling menyeramkan. Apalagi, tentara Jerman yang mengepungmu itu tidak mau ngaku sebagai Yang Kalah.

5. The Lobster

Kelak, sampai usia tertentu (yang ditentukan aparat yang keparat) dan kamu masih hidup menjomblo, kamu akan dikurung dan dimukimkan di panti-sesama-jomblo. Selamat mencari pasangan di panti itu. Waktumu hanya sebentar, dan kalau habis: sesegera kamu moksa: jadi binatang yang kamu mau. Saranku, kamu bilang saja kalau kamu mau jadi lobster. Kelak, seperti Colin Farrell, siapa tahu kamu gagal moksa dan menjadi manusia utuh dengan kekasih yang memilih kabur dari panti karena sama-sama takut moksa.

4. 3-Iron

Jadilah penyelamat hidup orang lain. Kalau perlu, jadilah penyelamat hidup orang yang seumur-umur belum merasakan harmonisnya cinta. Menjadi penolong memang tidak susah (begitu kira-kira kata psikolog akhir-akhir ini). Tapi, langkah awal yang bisa kamu tiru dari film Korea besutan Kim Ki-Duk adalah jadilah “penyamar”. Bukan penyamun!

3. Manchester By The Sea

Anak-anak kecilmu telah lama mati (dan hangus) karena kecerobohanmu lupa mengecilkan tungku api di ruangan yang banyak botol birmu. Kamu berpisah dengan kekasihmu karena kebakaran satu-satunya rumahmu. Sekarang, kakak laki-lakimu wafat. Kamu diwasiati agar menjaga anaknya dan jangan sampai mantan istrinya menjadi pengasuhnya. Kamu, sebagai adik kandungnya, lebih dipercaya. Padahal, kamu itu apa? Membumihanguskan rumah, berpisah dengan kekasih, dan yang paling payah: kamu telah menghanguskan anak-anakmu (meski kamu akan bilang bahwa kamu lupa—tapi ya tetap itu teledor!).

2. Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak

Marlina lebih memilih membunuh daripada harga dirinya diludahi begitu saja oleh laki-laki yang mencuri ternaknya dengan tenang. Baginya—setelah menolak ajakan tetangga jauhnya pergi ke gereja untuk menebus dosa membunuh—ia tidak merasa berdosa. Mouly Surya, selaku sutradara, seolah-olah ingin berkata, “Dunia ini tetap akan baik-baik saja tanpa kalian, wahai laki-laki—bujangan atau tak bujangan. Kami—para perempuan—lebih mampu merawat bumi dan lebih paham soal hidup. Jangan atur kami, atau lebih baik, kami racuni dan kami penggal kepalamu!”

1. Ziarah

Nenek bernama Sri umurnya 95 tahun dan setelah sekian tahun ia gemar berziarah, ia akhirnya tahu kalau makam suaminya yang asli tidak di tempat biasanya. Keris peninggalan suaminya adalah kompas yang bisa menunjukkan makam aslinya. Bersikeras, mbah Sri bilang ia ingin dikuburkan di samping makam suaminya. Kasihan, makam asli tak kunjung ditemukan. Sampai di akhir cerita, mbah Sri bertemu dengan makam itu dan ia pingsan. Paska pingsan, mbah Sri memutuskan untuk ikhlas. Menerima dan menanam maaf pada segala masa lalunya.


(Especially written by me to @illona_a_ .)
For y’all, go watch, then be sad, then be happy, and sad again, then evaluate your sadness and share your happiness.

Share: