10. Schizofriend – Rindu Selalu Ada dalam Daftar

Menjadi soundtrack di film “Lelaran”—film pendek pertamaku, Sam kumintai tolong membuat lantunan untuk disertakan di babak akhir film ini sampai teks kredit selesai. Adalah Fajar Merah (anaknya Wiji Thukul) dan Chairil Anwar yang memengaruhiku dalam menulis liriknya—meski pada akhirnya digubah menyesuaikan notasinya. Kamu bisa dengarkan cuplikannya di YouTube, cari aja: Lelaran Trailer. 


9. The Spouse – One Moon-Lit Night

Nuansa romantis yang ada di lagu ini bisa mengajakmu berdansa. Tapi juga bisa sekaligus bersedih sambil membayangkan bahwa dirimu kehilangan kekasihmu. Persis setakjub pupusnya Alek dari Sari di film “A Copy of My Mind” ini. Aku juga takjub ketika satu video di YouTube menayangkan standing ovation penonton di Venice Film Festival. Lagu tersebut turut diputar tatkala Joko Anwar, Chicco Jerikho, dan Tara Basro berada di deretan kursi depan. 


8. Noe Letto – Pelangi di Langit Senja (OST. Bid’ah Cinta)

Swear, film religi ini nggak begitu religius amat. Tapi soundtrack-nya begitu menyayat. Secara implisit, kamu akan diajak berpikir bahwa kekasihmu berbeda pandangan denganmu sementara kamu mau-nggak-mau menerimanya. Dengan tulus hati. (Oiya, lagu ini telah sekian hari menemaniku mengerjakan proposal skripsi). 


7. Rusa Militan – Senandung Senja

Anak JAFF itu anak yang ternyata lebih indie dari yang kukira. Kalau nggak ada screening film-film pendek di CGV, mungkin aku nggak tahu lagu ini. Ujar penulis lagu sekaligus vokalis lagu ini, ia menciptakan liriknya untuk ibunya yang telah tiada. Tapi, tanpa pembatasan, lagu ini benar-benar bersenandung tentang senja. Senja, yang kerap cepat hilang dari matamu, dan mataku. 


6. Illona And The Soul Project – Tentang Waktu

Terimakasih kepada Gelanggang Expo sudah mengadakan konser gratis hingga akhirnya aku tahu lagu-lagunya Illona. Hei, aku hapal lagu yang nggak begitu mengeluhkan tentang sakit hati ini. Saat konser, lagu ini pasti akan dinyanyikan terakhir dan disambung dengan lagunya Chrisye yang ada liriknya “Uuaa-ai-ai-uuaa-a-aa…”. Sampai sekarang, aku nggak tahu artinya ‘seresah’. Apakah satu resah? Atau selasih…? Wox. 


5. HiVi – Remaja

Sampai sekarang, aku kesusahan menghapalkan kord lagu ini. Setahuku, “Orang Ketiga” juga susah kordnya—untuk dihapalkan. Yang ini malah semakin sulit, deh. Meski begitu, lagu ini lagu yang paling syahdu kalau pas konser. Cowok ataupun cewek bisa bersuara klop ya di lagu ini. 


4. The Spouse – Kelam Malam (OST. Pengabdi Setan)

Kesuksesan Pengabdi Setan di tahun 2017 tidak bisa dilepaskan dari musik latarnya. Sukses mengisi musik di film “A Copy of My Mind”, The Spouse lebih di-booming-kan lagi oleh Joko Anwar di film keenamnya ini. Nuansa jadul pasti akan terbentuk di pikiranmu. Plus menyeramkan, kalau-kalau ‘ibu’ ikutan nyanyi di belakangmu. 


3. Cholil Mahmud – Lazuardi (OST. Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak)

Efek Rumah Kaca, setahuku, tahun lalu cuma dua kali konser di Jogja: di JEC dan di PKKH. Jangan mengira ERK sedang menjadi minor unjuk gig(s). Vokalisnya, Cholil Mahmud, hadir menyanyikan lagu untuk film yang lolos ke Cannes, Toronto, Busan, dan Tokyo tahun 2017. Kamu bisa paham ada aroma ‘satay western’ di film maupun di lagunya. Kalau kamu memfavoritkan lagi ini, mungkin, kamu adalah manusia paling beruntung. Bukan manusia paling sial.


2. Stars & Rabbit – Man Upon The Hill

Lagi-lagi, saya harus berterima kasih sama anak JAFF. Tidak sekadar mengenalkan film yang keren dan filosofis, lagu pun ikut-ikutan di-brainwash-kan kepadaku. Asal kamu tahu, ini lagu yang vokalisnya perempuan Indonesia berdomisili di Jogja, lagu yang banyak sedihnya daripada bahagianya, dan lagu yang paling layak menemanimu patah hati dengan ending-mu berjingkrak-jingkrak njathil melebihi njathil-nya Ari Lesmana “fourtwnty” dan Farid Stevy “FSTVLST”. Aiaa-aa-aiaa-aa-aiaa-aa, dst. . .


1. Puti Chitara ft. Cholil Mahmud – Gelembung Kaca

Selain sibuk jadi vokalis Barasuara, dia juga menyanyi solo. Nggak banyak yang tahu, kan? Aku pun tahu gara-gara mencari-cari dengan kata kunci ‘Cholil Mahmud’. Melihat video liriknya, saya menduga lagu ini tentang suatu perjalanan. Kata-katanya puitis, tidak murahan. Suara feminim Puti terdengar sendu, bertautan dengan maskulin dan menyayatnya suara Cholil. F

Share: