Di awal, memang tidak pernah terdengar dialog. Anak-anak tampak sibuk di pertokoan usang. Ada yang berlari. Dia menjatuhkan mainan namun kakaknya yang difabel berhasil menangkap mainan itu sehingga berujung pada tidak jadinya terdengar suara mainan hancur. Kesembronoan pertama berhasil mengejutkan saya sebagai penonton.

Yang bikin geram adalah si anak yang sembrono itu diam-diam mengambil baterai mainannya, padahal, sebelumnya sang ayah melepasnya dari mainannya supaya tidak terdengar lantunan dari mainan itu. Tatkala perjalanan menuju ke tempat yang entah, si anak iseng mengeluarkan baterai yang disimpan di jaketnya. Mainan menyala. Mainan berbunyi. Sang ayah dan sang ibu yang berjalan lebih dulu menengok ke belakang. Tidak boleh ada yang teriak. Sang ayah berlari mendekati si anak yang sembrono itu. Tapi gagal. Si anak menjadi korban dari entah monster atau pemangsa liar atau hantu aneh yang datang dari hutan sebelah kirinya.

Judul ‘A Quiet Place’ ditayangkan. Kisah, sejatinya, baru dimulai.

Sebagai film minim dialog, ada pikiran-pikiran yang mengusik tentang bagaimana menciptakan naskahnya, terlebih penjelasan detil mengenai perilaku tokoh dan semestanya.  Usikan berhenti ketika pada akhirnya dialog muncul terang-terangan. Di dekat air terjun, si ayah berbincang dengan anak laki-lakinya. Tentang kekeluargaan. Juga mempertanyakan apakah si ayah benar-benar sayang kepada anak perempuannya yang difabel—dia yang pernah dilarang masuk ruang bawah tanah, tempat di mana sang ayah bekerja dan bereksperimen untuk mengatasi monster pemangsa keberisikan.

Hari-hari sebelum saya resmi menonton ‘A Quiet Place’, saya mengunduh dan mendengarkan suara latar film yang diciptakan Marco Beltrami. Saya menangkap efek-efek sedih. Bukan sekadar orkestra horor dan cepat, latar suaranya (dari satu track ke track lain) benar-benar mewakili perasaan keluarga kecil itu: berperasaan dan meyakinkan penonton tentang pentingnya parenting.

‘A Quiet Place’ mampu menjadi blockbuster bagi para penontonnya. Namun, sedikit kekurangan (kata ‘sedikit’ dengan jujur saya persembahkan bahwa memang ‘tidak banyak’ kekurangan) di cerita ‘A Quiet Place’:

  1. Tokoh ayah adalah tokoh yang pintar tapi bodoh. Pintarnya, sang ayah bisa merangkai sekian teknologi demi menciptakan semestanya yang aman dan bisa memberikan pertanda kondisi waspada. Sang ayah mengumpulkan berita-berita, menciptakan formula untuk mengalahkan si monster, dan memiliki perangai kasih sayang untuk istri dan anak-anaknya. Bodohnya, mengapa sang ayah harus bertindak bodoh dengan bersikap berisik dan berujung menjadi korban monster demi menyelamatkan kedua anaknya yang tengah diburu monster di mobil usang? Atau, sang ayah adalah cerminan bahwa sepintar-pintarnya manusia, dia takkan selamanya pintar dan bisa bertindak bodoh di situasi darurat.
  2. Ada 3 genre yang berebut menjadi 1 genre utama: horor, thriller, dan drama. Thriller dan drama memang layak bersanding di film ini. Kalau untuk horor, sepertinya ada yang timpang. Secara agak terpaksa, genre horornya dibuktikan dengan kemunculan bapak-bapak tua (dengan efek suara mengejutkan) di suatu hutan sewaktu sang ayah dan anak laki-lakinya ke luar rumah. Dan secara membabi buta, genre horor hilang ketika monster pemangsa keberisikan tampil full body di beberapa scene. Saya (dan penonton pada umumnya) jelas akan mengira, “Oalah… Jebul kayak gini monsternya. Jebul bukan hantu atau sosok menyeramkan. Dia Cuma efek CGI, aja…”

Overall, Emily Blunt, yang memerankan sang ibu, berhasil menjadi aktris internasional favorit saya. Tapi, Saoirse Ronan masih terfavorit.

Share: