Selepas menonton The Lobster (2015) dan Dogtooth (2009), saya memutuskan untuk memfavoritkan sutradara asal Yunani ini: Yorgos Lanthimos. Begitu juga setelah menonton The Lobster, saya juga kagum dengan main perannya Colin Farrell.

Yorgos bukan hanya sutradara atau penulis naskah film. Muasal Yunani boleh saja melahirkan Aristoteles, Plato, atau pemain-pemain sepakbola yang juara Piala Euro 2004. Di dunia perfilman, Yorgos datang dari Yunani dan tampil sebagai filsuf.

The Killing of a Sacred Deer (2017) telah tampil memukau di Cannes Film Festival 2017: masuk nominasi Palme D’Or dan menjuarai kategori Best Screenplay. Sebelum memberanikan diri untuk menonton filmnya, saya menonton presentasi Yorgos dan beberapa pemerannya di beberapa kanal di YouTube. Selain itu, saya juga sudah mendengarkan semua scoretracks film ini dari kanal Milan Records USA.

Menonton narasi filmnya maupun mendengar penjelasan ide ceritanya membuat kita bersepakat bahwa Yorgos menciptakan dunianya sendiri, meski kadang-kadang kita selaku penonton tahu betul bahwa tidak ada batas antara fiksi dan realita yang ditawarkan di film-film Yorgos. Oh, ya! Jangan coba-coba mencari makna filmnya dengan sekadar menerjemahbebaskan judul filmnya. Pembunuhan Seekor Rusa Keramat? Tapi, terserah saja. Mungkin yang seperti itu bisa membantu.

Cerita The Killing of a Sacred Deer dimulai dengan proses pembedahan. Steven yang diperanutamakan oleh Colin Farrell, sebagai dokter bedah, akhirnya menyelesaikan tugas pembedahannya. Sambil menonton adegan pertama, alam sadar saya bangkit dan membayangkan tentang bagaimana kalau organ saya yang dibedah, apakah organ saya sampai saat ini sehat-sehat saja, apakah suatu saat nanti saya akan mati karena kegagalan sekresi atau ekskresi suatu organ di tubuh saya? Hei, adegan pertama ini menyebalkan!

Lanjut. Di awal-awal durasi film ini, sebagai penonton, saya merasa aneh dengan sikap dan perilaku Martin (Barry Keoghan). Ia remaja 16 tahun, hidup berdua dengan ibunya karena ayahnya meninggal setengah tahun ke belakang. Ia tampak akrab dan sering berbincang dengan Steven. Konon, Steven membantu operasi ayahnya Martin. Walau akhirnya, ayahnya Martin meninggal.

Baiklah, mungkin akan terlihat membosankan jika yang tertulis di sini adalah alur lengkap atau opini yang biasa-biasa saja. Yuk, membaca film saja!

Oke, jadi, ada enam adegan yang membuat saya mengeklaim “why it is so dramatic!”.

Pertama, saat pagi-pagi Steven ke kamar Bob (Sunny Suljic), anak laki-lakinya, untuk menyuruh segera bangun dan bergegas berangkat sekolah. Dan nyatanya si anak memang sudah bangun: ia duduk di atas kasur tapi tidak bersandarkan sandaran kasur. Kaki anaknya lumpuh. Sang ayah tentu menganggap itu hal bercanda. Maka sang ayah tidak mau bertanya bertele-tele, ia menyuruh anaknya agar segera bangun dan jangan aneh-aneh. Sang anak pun meyakinkan ayahnya: kakinya tak bisa bergerak dan tak bisa berdiri. Musik orkestra yang begitu ominous terdengar menyeramkan sebagai suara latar seperti mengiringi tragisnya kelumpuhan Bob yang diantar ke rumah sakit oleh kedua orangtuanya.

Kedua, tatkala beberapa jam Bob mendapat perawatan, perlahan-lahan ia bisa berdiri, dan akhirnya, ia bisa berjalan di samping ibunya, Anna (Nicole Kidman). Mereka berdua pulang, sementara Steven, karena sudah berada di rumah sakit, tidak ikut pulang. Ketika Anna dan Bob berjalan di lorong-lorong rumah sakit, musik latar yang ominous itu datang mengiringi lagi. Anna dan Bob turun lantai melalui eskalator, dan di akhir eskalator, tepat ketika menapak lantai, Bob jatuh. Ia kembali lumpuh.

Ketiga, saat Kim (Raffey Cassidy) tengah latihan paduan suara di sekolahnya. Nyanyian tentang natal dilantunkan oleh Kim dan siswa-siswi lainnya. Beberapa lirik sempurna menggema di ruang latihan. Nadanya semakin tinggi. Tiba-tiba, Kim, yang berada di tengah posisi paduan suara, jatuh. Musik ominous terdengar dan latihan paduan suara berhenti. Adegan cut away pada Anna, ibu Kim, yang menangis pasrah sambil sandaran di lorong rumah sakit, kemudian ia dipeluk asisten bedah suaminya.

Keempat, ketika durasi film berjalan sekitar 75%, Martin diculik dan dicincang di ruang bawah tanah rumahnya Steven. Martin minta dipulangkan, sebab ibunya akan cemas. Steven tak memberi izin pulang kalau kedua anaknya membaik. Martin justru berontak dengan kecerewetannya. Martin lantas menggigit pergelangan tangan Steven. Beruntung Steven memakai baju lengan panjang dan lekas melepas gigitan Martin. Martin kemudian menggigit pergelangan tangannya sendiri. Katanya, ini namanya metafor. Simbolis!

Anna bergegas menuju ruang bawah tanah itu saat terdengar tembakan. Ternyata itu tembakan Steven dari senapan laras panjang untuk membuat Martin takut. Martin (mereka anggap) telah bikin gara-gara. Yah, begitulah, Martin diduga yang membuat lumpuh Kim dan Bob.

“Sometimes I think you’re naive but you can’t be naive,”
ujar Martin, berusaha menceramahi Steven.

Kelima, Bob ngesot dari kamarnya menuju ruang keluarga. Ia mencari gunting untuk memotong rambut gondrongnya. Sebagaimana dipaparkan di adegan-adegan awal, rambutnya seharusnya sudah pendek sebagai tanda bakti dan permintaan orangtuanya. Dengan asal-asalan Bob memotong rambut, akhirnya ia menemui ayahnya di dapur. Lagi-lagi, Bob ngesot.

Keenam, adegan sebelum adegan terakhir. Steven, Anna, Kim, dan Bob berada di ruang keluarga. Posisi duduk mereka berjauhan dan membentuk titik segitiga. Kecuali Steven, tiga anggota keluarga diikat, mulutnya disekap, dan kepalanya ditutupi dengan kain bermotif. Steven mungkin akan membunuh semuanya. Steven berputar-putar di tengah-tengah mereka. Ketika berhenti, peluru akan ditembakkan. Peluru pertama dan kedua tidak mengenai siapa-siapa. Peluru ketiga mengenai Bob. Satu titik lubang di kaos bagian dada Bob mengucurkan darah. Bob mati. (Kembali ke judul film. Apakah Bob adalah seekor rusa keramat? A sacred deer?)

Tentu ada kegerowongan di cerita ini. Ibu Martin hanya tampil di satu adegan saja. (Ah, padahal, penyebab kelumpuhan itu bisa jadi bermula ketika Steven berkunjung di rumah Martin untuk menonton film favorit Martin, dan ketika Martin ingin tidur duluan, ibu Martin berbasa-basi dan mengarah ke percakapan romantis. Steven tidak meladeni dan akhirnya pulang.)

Film besutan Yorgos memang tidak mudah dicerna seketika. Perlu membaca lain ulasan atau diskusi dengan penonton yang menyukainya atau malah membencinya. Yuk, berdiskusi—semoga sempat!


Selesai diketik di Kalasan, 31 Desember 2017-1 Januari 2018.

Share: