Berani-beraninya seorang laki-laki yang hobinya main game online di gawainya­1 ini mencalonkan diri sebagai Ketua Lembaga Mahasiswa (LM) Psikologi UGM.

Heh, Wan! Sebaiknya kamu tu mbok ngaca! Ketua LM itu seharusnya disiplin, ngaktivis, dan tentu saja: pintar.

1

Lha kamu? Kadang disiplin, kadang nggak disiplin, kan? Jujur wae. Kita sudah dua kali berproyek di dunia perfilman dan hampir semua kru kreatif (kecuali aku) memang seperti itu. (Yah, setidaknya aku jadi tahu: cuma gue anak psikologi yang serius di dunia film. Gue…)

Lalu, apakah sosok Afwan ini ngaktivis? Aktif nggitar, mungkin iya. Aktif main game online, jelas iya. Aktif di dunia perpolitikan kampus, itu yang banyak kawannya tidak tahu-menahu.

Yang terakhir, pintarkah Afwan ini? Oke, kalau klaimnya adalah semua mahasiswa UGM itu pintar, karena kalau nggak pintar; nggak masuk UGM. (Klaim seperti itu juga sering diucapkan oleh Marsha anak IUP Psikologi.) Klaim itu menimbulkan silogisme. Karena Afwan itu mahasiswa UGM, maka Afwan itu pintar. Ya, elah… Mari kita meminjam istilah Kang Rusdi Mathari, merasa pintar, bodoh saja belum.

Melihat masa lalu LM, sepantasnya Afwan belajar dari mantan Ketua LM bernama Mimi (dia sahabat saya, sama-sama bekerja sama di sahabatsehati.id dan pernah bersatu di matakuliah TAPP). Mimi ini sangat disiplin. Kesangatdisiplinannya itu tercermin dari segala tanggung jawab yang ia bawa, ia punggungi, dan tak pernah ia keluhkan. Jadi koordinator Pemandu ELBOM 2015; kelakon! Jadi koordinator musyawarah akbar KMP 2014; tuntas-tas! Jadi asisten penelitian Pak Ridwan (bareng saya); gercep! Sekarang, ia jadi sekjen BEM KM; tentu sangat populer!

Tapi kan setiap dari manusia memiliki individual differences, nggak bisa dong memaksakan Afwan harus seperti Mimi, seperti Mas Garin, seperti Mas Eng, atau seperti Pak Panut rektor tercintaahh.

Afwan, ya, Afwan. Mimi, ya, Mimi. Nggak bakal bisa memaksakan Afwan jadi seperti mbak Mimi. Afwan punya keunikan tersendiri. Pun mbak Mimi, ia juga keunikan tersendiri.

Satu kata saja, ya. Siap!

Tapi, ingat ya, kalau suatu saat nanti Rhoma Irama, Ahmad Dhani, Tere Liye, Jonru, Felix Siauw, Kim Jong-Un, atau Via Vallent maju mencapreskan diri, diharapkan teman-teman jangan nyinyir. Bukankah manusia memiliki individual differences? Kalau Jonru nyapres dan kalian tetap dukung Jokowi, dan ternyata Jonru menang, ya jangan paksaan Jonru harus seperti Jokowi. Meski sama-sama diawali Jo, Jonru punya keunikan tersendiri untuk bikin postingan nyinyir di dunia maya. Kalau Tere Liye terpilih jadi wapres dan kalian masih bersikukuh terhadap majunya Muhaimin Iskandar (Cak Imin) jadi wapres 2019-2024, ya mohon diingat: ada individual differences! Jangan pernah menyamakan novelis menye zaman now dengan Pemimpin Zaman Now.

Buat kamu mahasiswa Psikologi UGM 2014, 2015, 2016, dan 2017 yang bingung mau milih Afwan atau milih yang lain atau nggak milih sama sekali, saya sarankan untuk pelajari baik-baik calon ketua LM itu. Tanpa mendiskreditkan visi-misi, cobalah sekali-kali kulik tentang karakter mereka. Juga tanpa mengesampingkan Indeks Prestasi Kumulatif, cobalah cari tahu tentang dunia akademik dari masing-masing calon. Kalau memang sedang selo-selonya: baca tulisan-tulisan mereka, cari tahu apa saja yang mereka baca. Mengapa begitu? Sebab, satu hal yang perlu kita sepakati: pemimpin yang baik adalah pemimpin yang membaca dan menulis—apa pun lingkupnya.

(Nah, kalau buat kamu yang sejak awal atau di tengah-tengah membaca tulisan ini punya pikiran ‘Ini apa-apaan sih Mas Sevma, S.Psi., bukan anak LM tapi sok-sokan nulis tentang pemilwa Ketua LM.’, saya hanya ingin mempertanyakan pikiran itu kok bisa-bisanya ada… Jikalau pemilwa itu memang terbuka, seharusnya tak perlu takut untuk bersikap demokratis. Tapi kalau telanjur takut dengan kata-kata, ya sudah, itu hak Anda. Setidaknya, saya jadi tahu: masih ada orang yang takut dengan oposisi (dan tulisan saya).)

__

Catatan kaki:
[1] gawai: handphone, telepon genggam

__

Tulisan ini bersambung…

Share: