Entah kenapa, saya lagi pingin mengepos secuil kisah tentang kuliah. Apa itu jiwa? Apa arti psycho di dalam kata psychology? Aduhai, kali ini saya tak akan menguras otak lebih dalam soal arti harfiah atau arti dari tokoh-tokoh psikologi.

Dulu, tiga tahun silam, tak terbesit impian untuk kuliah di psikologi, lantas mendalami tentang hal-hal kejiwaan, tingkah laku manusia, kepribadiannya, dan lain-lain. Sungguh, tidak ada mimpi itu. Dulu, tiga tahun lalu, dan masih berlangsung secara kuat hingga penghujung tahun 2013, masuk dan menjadi mahasiswa Kedokteran itulah yang menjadi dambaan saya.

Aku Cah Jiwa!

Hebatnya mimpi masuk Kedokteran itu tidak memupus, hanya sedikit menipis. Ada pilihan lain, berupa pilihan Psikologi. Sekarang, sudah tiga bulan (terhitung sejak awal September 2013) saya menjadi mahasiswa Psikologi. Saya senang, bahagia sekali, dan masih banyak perasaan serupa yang masih ada sampai sekarang.

Yang membuat saya bertanya-tanya dan masih menyimpan keraguan di benak saya adalah perbedaan orang sekitar ketika mengetahui atau ketika berkenalan kemudian saya menyebutkan bahwa saya adalah mahasiswa Psikologi. Ada yang sebelumnya banyak tingkah kemudian ia agak berubah, menjadi pendiam sejenak, melirik raut wajah saya. Aw, menakutkan! Dipikirnya saya ini apa ya? Ada juga yang sebaliknya, berawal diam kemudian ketika tahu justru bercerita banyak hal.

Belum ada setahun saya berada di Psikologi ini, banyak kejadian ketika saya menemui orang-orang yang tidak berlatar belakang dunia kejiwaan kemudian menjadi agak menyimpang (menurut saya) setelah mengetahui bahwa saya adalah mahasiswa Psikologi UGM. Saya akan menganalisis orang-orang ini. Sekalipun memiliki akhir yang kurang jelas.

Dan suatu saat, saya mungkin lebih baik tidak memperkenalkan diri saya sebagai mahasiswa Psikologi. Mungkin, lebih baik, saya memperkenalkan diri saya bahwa, “Aku cah jiwa!” 

Share: