Sesampainya dari Jatinegara, Aliza berteduh di depan kios. Saya juga, di seberangnya, tidak terlalu jauh. Saya melambaikan tangan, memberinya kode: “ini lho aku, aku di sini, buruan, buruan, nanti keburu hujan”.

Kemarin Rabu, Aliza bilang di pesan maya bahwa ia hendak ke ibukota naik kereta. Tidak naik delman, ya! Katanya, ia akan diwawancara di Jakarta Timur, tepatnya di Pulogadung. Sementara saya di Jakarta Selatan dan berjarak lebih dari 15 kilometer dari tempat wawancaranya Aliza.

Akhirnya Aliza berkenan menginap di indekos saya di Jagakarsa. Dan begitulah alurnya: dari Jogja, turun di Jatinegara, nyari KRL tujuan Lenteng Agung dengan sekali transit, dan tinggal sekali seberang untuk saya hantar dengan sepeda motor.

Sampai di indekos, saya paksa Aliza untuk mandi. Aliza menolak. Katanya, ingin istirahat dulu.

Saat masih di kereta menuju Jatinegara, Aliza memesan makan sore di pemesanan yang ditawarkan pramusaji kereta. Cukup mahal baginya. Dan sesampainya di Jagakarsa, saya tawarkan Aliza seporsi bakso yang dijual orang Jawa di seberang indekos saya. Semoga, Aliza bisa menilai bahwa makanan di sini tidak kalah enaknya dengan makanan di kereta.

*

Hari Kamis pagi, Aliza Yuzuf melawat ke Pulogadung. Sesuai intruksi saya sewaktu makan bakso yang dijual orang Jawa, Aliza Yusuf naik KRL. Pokoknya ya ke arah Jakarta Timur dan ada dua alternatif tempat turun dari KRL. Habis itu, jalan kaki: bisa; atau naik ojek: juga bisa.

Saya bekerja. Aliza Yusuf diwawancara.

Sore tiba dan Aliza Yusuf kembali ke indekos saya—dari Lenteng Agung, Aliza Yusuf memesan ojek online, nebeng di belakang dan ternyata harganya serupa dengan harga angkot untuk jarak yang tak jauh: sangat murah!

Untuk kedua kali saya minta dia mandi dan dia menolak dan katanya ia ingin istirahat dulu. Oke, kalau gitu, saya mandi dulu.

Jumat besok, Aliza Yusuf ada kelanjutan dari wawancara. Satu tahap bekerja-di-ibukota datang untuknya.

Satu tahap itu membuatnya sedikit gusar. Sebab, Kamis malam, ia harus sudah dalam keadaan memiliki kemeja berkerah. Nahas, kemeja yang dibawanya sudah terpakai (dan menurutku, nggak layak dipakai lagi untuk satu tahap di hari Jumat).

Akhirnya, dengan bermotor, saya ajak Aliza Yusuf (sepatutnya dibalik saja menjadi Aliza Yusuf mengajak saya) mencari kemeja berkerah. Di seantero Jalan Lenteng Agung, kami sempat berhenti di dua kedai baju, nyatanya tidak ada kemeja khusus untuk ukuran Aliza Yusuf.

Saya melajukan motor menuju Depok, ke arah Margonda tentunya. Dan Aliza Yusuf yang sejak awal tidak membawa helm (membawa saja tidak, bagaimana bisa memakai—padahal, sekarang, posisinya di jalan raya!). Lalu, mumpung setengah gerimis (hujan memang tak kunjung datang, tapi gerimis pun aras-arasan!), saya meminta Aliza Yusuf masuk ke dalam jubah mantel yang saya kenakan. Untuk apa? Ya untuk menutupi kepalanya yang tanpa helm itu!

Di Margonda, saya dan Aliza Yusuf adalah dua orang yang cukup banal untuk ukuran pencari setelan formal di perkotaan. Okelah, cukup DETOS (Depok Town Square) saja. Nggak perlu mall mentereng sepantaran Margo City.

Begitu motor terparkir dan jubah mantel dilayangkan begitu saja di atas papan spedometer, kami berjalan agak cepat, masuk ke mall, mencari-cari kemeja untuk tahap lanjutan kerja si Aliza Yusuf.

Untungnya saya pakai celana panjang, walaupun sporty, setidaknya masih wangun untuk jalan-jalan. Lha, Aliza Yusuf? Sudah kaosan, tidak helm-an, celana pun pendeknya tak karuan. Sudah gitu, sendalan. Jepitan.

Tak apa, Za. Yang penting, kamu bakal PeDe di Jakarta. Haha?

“Bakal tak-titeni og, Sev!” kata Aliza Yusuf yang artinya akan ia ingat-ingat kejadian itu. Kejadian memalukan, kan?

*

Hari Jumat berjalan tanpa hambatan, tak perlu berpikir keras-keras untuk menghadapinya karena keberkahan Jumat telah sampai pada Aliza Yusuf melalui ikhtiyarnya yang membahana.

Aliza Yusuf kembali. Ia berujar bahwa ia diterima kerja di Jakarta, di PT. PAMA.

Satu permintaan janggal terlontar. Aliza Yusuf sebetulnya bertanya terlebih dahulu, “Jadi, sekarang aku boleh gabung grup LINE (yang isinya lulusan psikologi yang kerja di Jakarta dan sepinggirannya)?” diucapkan Aliza Yusuf dalam bahasa Jawa.

Saya  balas bahwa kamu kan belum resmi. Haha?

*

Sabtu bukanlah hari terakhir Aliza Yusuf Habibi melakukan lawatan ke ibukota demi karirnya. Sabtu pagi itu adalah harinya ke pasar. Saya membawa rantang dan saya masukkan rantang itu ke totebag. Aliza Yusuf Habibi membawa uang, saya juga. Kami berjalan kaki ke pasar tradisional yang saat siang masih tampak ramai.

Beberapa dagangan yang terbeli di antaranya:

  1. Sayur-mayur dan lauk-pauk untuk makan siang dan jelang sore
  2. Sosis daging campur (daging ayam dicampur daging sapi)
  3. Mayonais yang merknya tidak terkenal
  4. Sepaket bihun mentah (isi 10 bungkus)
  5. 5 bumbu nasi goreng untuk bumbu memasak bihun

Saat perjalanan pulang, Aliza Yusuf Habibi sengaja membeli makanan ringan yang bagi saya tidak begitu mahal. Setelah itu, beberapa puluh meter menuju pulang, kami mampir membeli doger dan cincau. Dibungkus satu saja untuk Aliza Yusuf Habibi. Dibungkus dua untuk saya. Haus; bebas.

*

Malam Minggu, saya tapping KickAndy di studio MetroTV, di Kedoya, Jakarta Barat. Di lain pihak, Sabtu malam, Aliza Yusuf Habibi berada di indekos saya. Sendirian.

Aliza Yusuf Habibi tidak tidur. Sebab, saya pulang mepet tengah malam.

*

Hari Minggu, Aliza pergi. Aliza tidak pergi kembali, tidak ke Jogja atau ke Papua, tempat besarnya.

Hari Minggu, Aliza masih di Jakarta dan memilih bersua dengan kawan baiknya, Afif Andhika, di Jakarta bagian lain dari Selatan.

Hari Senin, Aliza pergi. Aliza kembali. Ke Jogja.

(Ternyata, Aliza Yusuf Habibi berulang tahun di hari Senin itu. 12 Maret. 23 tahun. Sarjana Psikologi.)
(Resmi sudah Aliza Yusuf Habibi menjadi seorang laki-laki yang keluar dari rumah(-nya di Jogja), meninggalkan ibunya demi laku kerja di ibukota setelah lama kuliahnya di Gadjah Mada—universitas yang biasa-biasa saja dan sepantasnya nggak perlu dimahaistimewakan.)

Share: