arif-k-ibukota

Pagi-pagi, Arif K kerja dengan mengenakan kaos—dibalut jaket yang sudah sekian tahun ia pakai dan tak ia ganti, sandal jepit, dan masker yang warnanya itu-itu saja. Saban hari, Arif K menatap layar. Pekerjaannya dahsyat: membuat peranti lunak pesanan perusahaan kesohor; seperti Pertamina yang kebanyakan minyak itu.

Aku tidak tahu apakah daftar lagu yang Arif K putar masih itu-itu saja. Yang aku tahu, Arif K merupakan pembaca Wattpad. Seri cerita Anggap Saja Ini Kisah Sedih yang aku karang sejak akhir 2018 menjadi salah satu bacaannya. Aku juga mengetahui bahwa Arif K masih memiliki sikap hemat yang konsisten, menggemari kegiatan tokan-takon yang penuh tanda tanya, dan menyimpan banyak kesah yang belum banyak aku dengar.

Arif K, saat berjumpa denganku, tidak sedang bekerja di ibukota. Aku sebelumnya bertanya melalui pesan maya, apakah di sekitar ibukota (?); Arif tak kunjung menjawab nama daerahnya. Butuh 10 menit lebih, Arif K akhirnya menyebutkan Kabupaten Bogor sebagai tempat kerjanya sekarang. Imbuhnya, ia tengah memulai masa percobaan sampai tiga bulan ke depan.

“Nggak ada mal,” kata Arif K, di indekosku malam itu.

Bukannya seharusnya bersuka cita apabila di sekitarnya tidak ada mal? Toh, Arif K di sana sendirian. Tidak punya kekasih—maksudku, belum punya kekasih maupun calon kekasih. Aplikasi pencari kekasih semacam Tinder dan Tantan belum memasuki daya pikatnya. (Aku berkali-kali mencandainya dengan ucapan “Swipe kanan untuk suka, swipe kiri untuk benci!” kepadanya. Prinsipilnya, Arif K tetap tidak memiliki daya pikat.)

“2 jam perjalanan naik bus dari Grogol,” tambah Arif K.

Wah, kalau sudah begitu, aku tidak bisa memberi jawaban yang sanggup memberi sisi ayem di pikirannya. Setiap kali obrolan berhubungan dengan perpindahan justru membuatku beranggapan bahwa pengobrol tidak ingin berpindah. Sejauh apa pun, sedekat apa pun. Pasti ada sudut tertentu dari pengobrol agar menetap saja, atau paling tidak, tidak melawat ke tempat yang jauh-jauh amat. Apalagi memakan waktu 2 jam perjalanan, dari Grogol, ke Kabupaten Bogor—segera hapus keyakinan anda tentang Bogor yang hanya terdiri dari Puncak dan Kota Bogor.

Aku ingin bilang kepada Arif K, bukankah kamu sekarang diberi kesempatan lanjutan untuk bekerja di BUMN ternama. Tetapi aku mengurungkannya dan menggantinya dengan topik bagaimana cara mendapatkan izin dari pekerja sekantormu hingga diperbolehkan pergi ke ibukota. Bagian itu sepertinya mudah saja dijawab siapa pun, termasuk Arif K. Tetap saja, ada jeda tertentu, untuk memilah kata dan mengolah makna supaya terdengar tidak terlalu jujur atau terlalu mengada-ada.

Serentetan kata yang Arif K ucapkan, menurutku, menjadi siasat perang di ibukota. Arif K merumpun sekian rencana yang salah satunya kelewat ganjil bagi sifat takut calon pekerja di ibukota, “Aku pengin kerja naik KRL. Kayak pekerja-pekerja lainnya.”

Jadi? Bisa ditarik kesimpulan yang ganjil pula: Arif K adalah calon tentara yang senjatanya bukan senapan atau sepatu bertungkak menyeramkan. Jika perang digelar, aku bisa membayangkan nantinya Arif K berada di posisi terdepan, memakai jaketnya yang tak pernah ia ganti, bermasker, bersepatu (demi melupakan sandal jepitnya), berdesakan dengan kontestan perang lainnya, dan pulang membawa kemenangan dan kelelahan. Aku sendiri tidak pernah paham bagaimana bersiasat dengan baik dan asyik, lebih-lebih kalau dikaitkan dengan siasat perang di ibukota.

Jangan mengira belajar bersiasat seperti Arif K itu termasuk bagian dari kesesatan. Di saat-saat usia dewasa muda bergejolak, mati muda bukanlah pilihan paling elok dan sah di mata keluarga tercinta. Menikah tentu oke. Tapi, Arif K menanggalkan rencana menikah terlebih dahulu sebab ada yang lebih asyik. Yakni, berperang.

Berperang itu, pada zaman sekarang, sering dimaknai sebagai ‘bekerja di ibukota’. (Dan bekerja, pada zaman penuh kesempitan untuk berkesempatan, sering dikata-katai sebagai ‘berperang’.)

Share: