42 buku telah dibaca di tahun 2017. 15 berupa kumpulan puisi, 14 kumpulan cerpen, 5 novel, dan 8 buku nonfiksi. Di awal tahun 2017 lalu, saya berencana hanya menuntaskan 8 buku saja (apapun jenisnya). Menyoal skripsi adalah ketakutan terbesar tidak bisa meluangkan waktu baca, fiksi khususnya. Kenyataannya, nggak juga. Membaca puisi-puisi atau narasi fiksi pendek atau panjang justru bisa membantu saya sedikit mendapatkan relaksasi harian maupun mingguan. Termasuk membaca buku nonfiksi mengenai perfilman nasional dan segala jenis pergolakannya, ini pengalaman pertama saya membaca buku karya Garin Nugroho, sutradara terbaik yang dipunya negeri ini.

130 lebih film panjang telah saya tonton di tahun 2017, tentunya mulai Januari sampai Desember. Tidak hanya film ber-Bahasa Indonesia dan ber-Bahasa Inggris, saya mengeksplorasi tontonan saya pada tema-tema spesial dan gaya penuturan film-film Korea Selatan, Jepang, Thailand, Yunani dan Iran. Empat negara yang disebutkan itu urut dari yang saya tonton terbanyak. Dari Korea Selatan, saya memutuskan untuk memfavoritkan sutradara bernama Kim Ki-Duk beserta film-filmnya yang selalu bernuansa kesedihan, kegetiran, dibalut musik latar yang menyuratkan bahwa-inilah-Korea, dan tidak secerewet drama-drama zaman milenial kekinian. Dari Thailand: Apichatpong Weerasethakul. Dari Yunani, ada Yorgos Lanthimos karena film The Lobster (2015), Dogtooth (2009), Alps (2011), dan The Killing of a Sacred Deer (2017) yang meskipun naratif tapi menyajikan filsafat estetika dan kritik sosial.

Tahun 2018 ini, saya menargetkan bacaan sebanyak 37 buku. Adapun soal tontonan film panjang, sepertinya (kata ‘sepertinya’ lebih baik aku ganti tulis dengan kata ‘mungkin’) aku akan menonton kurang dari 100 judul. Yah, minimal dalam sebulan menonton 2 judul, biar nggak sepaneng amat.

Mari membaca di setiap hari, mari menonton dengan takzim!

Share: