berharap-skripsi-terealisasi

Seperti ada masa depan, tapi dari hari lalu…

Senin itu hari yang membahagiakan bagi saya setelah beberapa hari tiada kabar soal diterima atau ditolaknya saya menjadi asisten mata kuliah Statistika. Senin itu, saya pertama kalinya menjadi asisten matkul Statistika. Dua hari kemudian, hari Rabu, saya juga diberi kabar bahagia bahwa saya diterima menjadi asisten matkul Metode Penelitian Kuantitatif.

Menjadi mahasiswa yang sedang menapaki semester tujuh bisa diibaratkan sebagai perantau yang hendak pulang menuju halaman rumahnya. Ia tak lagi berbeban pikir, berbekal cukup, dan tengah membawa oleh-oleh khas tempat rantauannya. Meski begitu, saya yang sedang berada di area semester tujuh ini nyatanya tidak seperti pelancong yang bercirikan begitu. Saya menjadi pelancong dengan bekal yang bisa dianggap cukup tapi dengan beban pikir yang tidak sedikit. Jangan tanya soal oleh-oleh, sebab saya belum mengambil jalan membawa oleh-oleh itu.

Senin itu—pertama kali bertemu dengan dosen Statistika yang akan saya dampingi—adalah hari perkenalan antara saya dengan bapak dosen. Setelah pertanyaan berjawaban singkat (misal: nama, dulu kelas Statistika diampu siapa, aktivitas), saya ditanya “Berarti sekarang sudah ambil skripsi?”

Dan jujur saya menjawab, “Belum, masih memenuhi SKS dulu.”

Pertanyaan serupa juga datang ketika hari Rabu saat perkuliahan Metode Penelitian Kuantitatif—waktu itu kelas tengah berdiskusi sehingga saya dan ibu dosen ada sela waktu berbincang sejenak. Karena nama sudah saya beritahu sejak awal kelas, ibu dosen mengawali perbincangan dengan pertanyaan berupa semester berapa dan dulu kuliah Metode Penelitian Kuantitatif dengan siapa.

“Sekarang tinggal skripsi, Mas?” tanya ibu dosen.

Dan mengulangi jawaban pada hari Senin, saya jawab, “Belum, masih memenuhi SKS dulu.”

Mengulangi mata kuliah di semester enam lalu adalah pekerjaan yang menambah beban saya sebagai pelancong. Sebagian teman-teman pelancong dengan santai tanpa tambahan beban mengulang memilih jalan lurus, mulus, dan alus. Skripsi adalah oleh-oleh pelancongnya, wisuda adalah finish­-nya.

Mau tidak mau, di semester tujuh ini, mahasiswa semester tujuh akan kerap dijejali topik hangat: skripsi. Terlepas apakah tengah mengambil dan menjalainya, atau masih memenuhi SKS seperti saya, bahasan skripsi adalah bahasan yang akan selalu terngiang.

Selasa—delapan hari setelah pertama kali saya masuk kelas Statistika, saya sengaja duduk di auditorium fakultas, di G-100. Saya masuk di ruangan yang sudah ramai kawan-kawan saya yang tengah mengambil skripsi. Kursi-kursi di depan meja panel sangat ramai. Saya taksir: setengah lebih dari total mahasiswa seangkatan saya ada di situ. Kursi bagian tengah sampai belakang terlampau penuh. Depan hanya ada segelintir, saya ambil duduk di salahsatu kursi. Tetapi sebelum soal milih-milih kursi itu, ada pertanyaan dari pihak Akademik di dekat pintu masuk, “Mas, tanda tangan dulu, mas.”

Saya enggan mengulangi jawaban yang saya haturkan kepada dosen-dosen beberapa hari lalu.

“Saya ambil skripsi semester delapan nanti, Pak. Sekarang boleh sit-in nggak, Pak?” Kesopanan menentukan tidak-bolehnya kita, saya percaya itu.

“O, ya, silakan, Mas.”

“Makasih, Pak.”

Selasa itu kuliah skripsi dibawakan oleh dosen Statistika yang saya asisten-i. Ada perasaan bangga, apalagi ketika saya diminta membantunya dan diperkenalkan kepada kawan-kawan (yang tengah duduk di auditorium karena sedang menempuh skripsi). “… asisten saya di kelas Statistika. Silakan tanya dia kalau ada pertanyaan tentang statistika.”

Sehari setelah saya mampir kuliah Skripsi, perkuliahan Pendidikan Pra Sekolah dihelat di ruang A-203. Hanya 25 mahasiswa yang datang, selebihnya masih menjalani kuliah Skripsi. Sebagai ketua kelas yang telah ditunjuk oleh kawan-kawan dan ibu dosen (yang sekaligus Bu Dekan), saya jelas lebih memilih kuliah yang menjadi tumpuan pemenuhan SKS daripada ­sit-in di Auditorium G-100.

“Lainnya pada ke mana?” tanya ibu dosen.

Hening sampai beberapa detik kemudian. Saya dan dua puluh empat kawan saya sama-sama tidak kuliah Skripsi, juga sama-sama sedang memenuhi SKS. Sampai ada beberapa suara menjawab bahwa yang lain ada kuliah Skripsi.

“Kalian belum ambil Skripsi?” tanya ibu dosen, lagi.

Tidak ada jawaban, hening seketika. Ibu dosen tahu itu pasti. Dan akhirnya ia memberi kata-kata optimis, “Nggak apa-apa, berarti kalian lebih memilih kuliah ini. Karena ini yang official…”

Semester tujuh ini, saya bertekad melakukan penelitian yang boleh jadi akan menjadi bahan bantuan skripsi di semester depan. Saya punya rencana besar sebelum saya wisuda: ke luar negeri. Manifestasinya berupa mengikuti konferensi.

Jadi? Sebenarnya, saya tidak hanya memenuhi SKS di semester tujuh ini. Tetapi, saya juga hendak mengerjakan skripsi bayangan.

Doakan saya ya! Semoga doa itu juga diamini malaikat untukmu juga!


Tulisan selesai di Rumah Kalasan, 14 September 2016, pagi hari sebelum kuliah Pendidikan Pra Sekolah. Disunting sebelum dipos di Sekretariat Keluarga Muslim Psikologi UGM, sore hari.

Share: