Buber -

Buber atau buka bersama merupakan kegiatan yang pasti ada di Bulan Ramadhan. Saya mengelompokkan buber menjadi tiga tempat: masjid, rumah, dan selain keduanya.

Buber yang diadakan di masjid biasanya diawali dengan kajian. Tematik ataupun non-tematik dijadikan sajian sebelum berbuka. Makanan kecil dan/atau makanan besar disiapkan saat pengajian sedang dihelat. Tidak banyak obrolan, kecuali bagi yang memang ingin mengacaukan pengajian. Setelah buber di masjid, mayoritas jama’ah akan sholat Magrib berjama’ah dan belum dipastikan apakah mereka juga akan sholat Isya dan Tarawih berjama’ah.

Buber di rumah merupakan kesederhanaan tersendiri. Entah masak sendiri atau beli di luar, buber di rumah merupakan aktivitas yang bisa mengharmoniskan keluarga atau anggota yang ada di rumah tersebut. Alangkah indahnya bila setelah berbuka, mereka berbondong menuju masjid.

Yang terakhir, buber di selain masjid juga selain di rumah. Ini yang sering dilakukan mahasiswa. Tidak ada yang salah pada bagian ini. Berbeda dengan buber di masjid, buber di warung makan jelas sulit untuk diadakan pengajian. Pem-buber lebih memilih ngobrol daripada berdiam diri bermenit-menit menunggu suara sirene pertanda buka. Dan yang bisa berbahaya adalah ketika lupa waktu sholat Magrib. Terlepas dari nikmatnya sajian buka, kerinduan terhadap teman lama yang diundang saat buber merupakan kesempatan berharga saat buber. Kalaupun ingin sholat, pem-buber melakukannya di musholla terdekat. Setelah itu, belum dipastikan dari para pem-buber melanjutkan sholat Isya dan Tarawih berjama’ah. Masjid memang belum sepi, tetapi isi masjid yang menyepi. Tidak sebanyak di hari-hari awal. Tidak sebanyak ketika buber-di-selain-masjid dilaksanakan.

Wahai masjid, bersabarlah…

________

11 Ramadhan 1436 H

2806.2015, ditulis di G-100, Fakultas Psikologi UGM

Share: