Kamu memilih bekerja di ibukota karena banyak alasan. Alasan paling kuat tentu karena tidak ingin hidup sebagai pribadi yang memiliki kegemaran luntang-lantung belaka.

Sekian minggu kamu bekerja di ibukota dan keyakinanmu tentang waktu rehat membuatku terlampaui merinding. Kamu bilang bahwa tidur adalah investasi. Aku tentu tidak setuju sebab hobi manusia kebanyakan setiap malam adalah tidur. Bagaimana mungkin kamu berinvestasi ketika terlelap dan tidak ingin bersuka ria di hari gelap seperti waktu masih menjadi mahasiswa?

Bagiku, tidur ya tidur. Investasi ya investasi. Karena, kalau dibolak-balik gitu, jangan-jangan kamu menganggap bahwa investasi adalah kegiatan yang itu-itu saja dan ketakutanmu berlebih seiring bertambahnya umurmu di dunia hanya gara-gara besok kamu tidak bangun lebih pagi dan bosmu mencap buruk perangaimu yang tidak menjaga baik-baik waktu rehat.

Dilihat dari raut wajahmu, kamu tidak terlalu capek. Mungkin karena kemarin Jumat adalah hari libur dan hari ini kamu berkumpul untuk mendengarkan, juga menceritakan perihal aktivitasmu.

Waktu yang masih lama membuatmu ingin menceritakan orang-orang yang tidak datang dan/atau orang-orang yang masih di Jogja. Kamu antusias menceritakan mantan teman-temanmu meski ending-nya kamu menyesali mereka yang berpisah karena alasan yang banal seperti ogah LDR dan nggak cukup duit untuk kawin. Kamu lebih antusias lagi menceritakan kesuksesan kawan-kawan kita yang seperti rejeki: datangnya nggak disangka-sangka.

Ketika kamu terlihat bosan, kamu mengecek gawaimu dan aku melihat ada notif berurutan dari LINE Ramadhan, LINE JOBS, PsiUGM13 Jabodetabek, dan LINE Stickers. Kamu mengeklik notif dari grup PsiUGM13 Jabodetabek dan kamu takjub melihat gambar profil yang sungguh tidak aduhai hingga akhirnya kamu tertawa.

Kamu mungkin pengguna transportasi umum sejati. (Sementara itu, aku meyakini bahwa hanya aku yang naik motor plat AB ke kantor dan pergi-pulang kerja bersandal jepit.) Kamu mampu menghafal trayek angkot dan kereta komuter, tetapi enggan menghafal trayek bus kota berwarna oranye dan putih-hijau. (Sementara itu, firasatku berkata bahwa aku adalah minoritas yang memiliki kartu Flazz tatkala mayoritas adalah penggenggam kartu non-Flazz.)

Kamu ngebet foto bareng. Meja kayu yang mengkilat masih penuh piring dan gelas, tapi hal itu tentu nggak bikin pusing kepalanya Barbie. Kamu pun keluar dari restoran Solaria, mencari-cari latar foto yang uhuy sekali untuk diunggah di stori Instagram meski acap menerbitkan balasan “Kok gendutan?”, “Kok background-nya gitu banget?”, atau “Wah, rame, yaaa… Jadi pengin… Wokwok…”.

Pulang tiba dan berpisah adalah cara terbaik mengistirahatkan kata-kata. (Asik…)

Share: