cantikitu Luka

Sebelumnya, saya membaca tulisan-tulisan Eka Kurniawan berupa cerita pendek dalam dua kumpulan cerpennya: ‘Corat-coret di Toilet’ dan ‘Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi’. Agustus 2015 kali ini, ‘Cantik Itu Luka’ merupakan novel Eka Kurniawan yang pertama saya baca. Saya mulai baca ketika liburan semester nyaris habis dan selesai baca ketika menikmati akhir pekan di minggu awal kuliah. Jujur, saya banyak belajar sastra dari tulisan Eka.

Sejujurnya, saya (selaku pembaca) berpikir bahwa ada beberapa rasa yang disuguhkan novel ini. Ada seksualitas, ada sejarah, ada politik, ada romantis, dan horor sebagai pelengkap tambahan serta humor sebagai pupuknya. Saya selalu bertanya-tanya: mengapa Eka berani-beraninya dan bisa-bisanya menulis yang semacam ini? Pertanyaan itu seolah-olah terjawab dengan rasa ingin tahu saya mencoba menyelesaikan novel ini. Dari awal sampai dua halaman terakhir, ada yang secara tidak sadar membingungkan saya, yakni kaitan antara judul novel dan cerita yang saya ikuti. Banyak tokoh yang dikatakan cantik parasnya tapi sulit saya tangkap keterkaitannya dengan judul novel hingga pada akhirnya saya paham hubungan keduanya di halaman terakhir yang menyebutkan persaksian “cantik itu luka”. Saya merasakannya. Bahwa tokoh-tokoh cantik itu menebar luka, bahwa tokoh buruk rupa merupakan akhir dari kebosanan tokoh cantik, dan itu tersurat di bagian akhir yang memuat empat persaksian.

Setelah baca novel ini, saya berencana membuat karya serupa yang menggelegar dengan banyak rasa, dengan pelengkap tambahan juga. Berencana…

(Cantik itu benar-benar luka.)


Malam hari,
3008.2015

Share: