Ada begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab seputar Soekarno, PKI dan partai-partai lainnya, tentara, dan kehidupan politik Indonesia, baik di tingkat elit dan rakyat, saat itu.

Begitulah bunyi kalimat kedua pada sinopsis di sampul belakang.

Waktu itu saya sangat antusias untuk menelaah PKI, komunis, dan peristiwa Gerakan 30 September. Akhirnya, saya membeli buku ‘Malapetaka di Indonesia’ karya Max Lane. Buku sangat murah dan tipis. Hanya 114 halaman.

Buku ini kerap membuat saya bingung ketika membuka halaman isi karena sampul depan dan belakang bergambar tokoh dengan efek ilustrasi yang sama. Sampul depan bergambar tokoh PKI bernama D. N. Aidit, sampul belakang bergambarkan Soekarno. Sama seperti isi buku, dua bagian membelah isi buku menjadi bagian ‘kiri’ terlebih dahulu lalu lanjut pada bagian Soekarno.

malapetaka di indonesia

Buku ini berisikan esai-esai karya Max Lane. Titik fokusnya ada pada 1965. Tapi pembahasannya bisa sampai tahun-tahun sebelumnya. Sejujurnya, saya lebih terpikat pada bagian kedua. Di situlah Soekarno diceritakan. Soekarno yang waktu itu dianggap mengalir ke ‘kiri’ menjadi topik utama di bagian kedua. Ada juga pembahasan mengenai esainya Bung Karno yang berjudul ‘Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme’. Esai membahas esai. Hal itu membuat saya semakin ingin belajar tentang sejarah. Hingga beberapa hari setelah selesai membaca buku ini, saya mencari buku (baca: e-book) Bung Karno berjudul ‘Di Bawah Bendera Revolusi’.

Tulisan Max Lane benar-benar menggugah saya untuk selalu belajar soal sejarah.  Salah satu kalimat penggugah itu tertera di halaman 98 pada kalimat terakhir esai ‘Soekarno yang (Di)Kalah(kan) Total’. Seperti ini kalimatnya:

Situasi seperti itu berujung pada pertarungan konspirasi gelap dan memuncak di tahun 1965 yang membuka kesempatan bagi kubu lawan Soekarno untuk mengalahkannya secara total.


0308.2015 | 9.16 WIB

Share: