8 KACA

Sempat aku berpikir, lebih baik setiap kamar itu dibuat tanpa kaca. Kalau saja jendela itu tak berkaca, udara akan mudah bertukar dan berpindah. Tapi ventilasi telanjur berderet di atas jendela, maka kaca-kaca yang tembus pandang perlu untuk dipasang.

Pikiranku tentang kaca bermula tatkala aku menemukan flamboyan yang tumbuh lebat di samping kamarku. Selain tumbuh ke atas, flamboyan tumbuh ke samping. Hingga esok hari itu, tangkai-tangkainya mulai berani menyentuh kaca jendela. Seolah ingin menyapaku, “Apa kabar, Tuan? Nanti sore temui aku, sirami aku biar segar.”

Tidak pernah aku ketahui siapa yang pertama kali memendam flamboyan ini. Begitu juga dengan tanaman yang lain. Aku ingat bahwa aku hanya merawat baik-baik gelombang cinta. Tanpa perlu risau betapa banyak pot yang harus aku beli untuk menampung gelombang cinta itu.

Soal flamboyan, ini beda kasus. Gelombang cinta tidak akan sampai menjulur tinggi seperti flamboyan. Apalagi sampai menggores kaca jendela. Flamboyan ini tumbuh sepuasnya, atau boleh jadi ia telah menjadi liar.

Yang terbesit dalam rencanaku justru ikut-ikut liar: akan aku potong saja tangkai-tangkai yang mengganggu jendelaku. Dan berdirilah flamboyan ini nyaris seperti cemara. Bedanya, flamboyan terdapat kembang merona-rona.

Keesokan harinya, aku terkejut hebat. Tangkai-tangkai itu tumbuh kembali, lalu menjulur ke sekat-sekat jendela kaca. Rupanya ingin menantangku, “Jangan potong aku! Nanti sore temui aku, rawat aku biar bahagia.”

Karena aku kesal, aku beranjak keluar. Aku potong tangkainya beserta daun dan kembangnya, aku cabut akar-akarnya. Dan tumbang sudah flamboyan itu. Aku bertepuk tangan karena debu memenuhi telapak tanganku. Lubang untuk menguburkan flamboyan kubuat besar-besar. Flamboyan itu resmi terbakar. Daunnya bergemeletuk, bersaingan dengan tangkainya. Kini saatnya aku sirami gelombang cinta yang rupanya mulai haus. Pekerjaan membumihanguskan flamboyan melupakanku dari tugas menyirami.

***

Aku berpikir, bagaimana kalau flamboyan itu tumbuh kembali: lengkap dengan tangkainya yang kembali menggores kaca jendela. Pagi-pagi itu aku kembali dikejutkan. Bukan dengan juluran tangkai atau liarnya flamboyan. Aku melihat engkau sedang duduk jongkok sambil mengayun-ayunkan arit. Rupanya engkau mencoba menanam kembali flamboyan baru.

Aku beranjak dari kasur, berlari menemui engkau. Saat flamboyan sudah berdiri tegap dan tanah tempat ditanamkannya sudah menyerap air, aku tak melihatmu di situ. Namun, ada tulisan di tanah sekeliling flamboyan itu. SAYANGILAH TANAMAN DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH, begitu tulisannya.

Atas dasar apa, engkau melakukan ini?

Kembali ke kamar, aku melihat flamboyan itu dari balik kaca. Tidak seperti sebelumnya, kembang-kembangnya tidak lebat. Hanya saja, aku tahu persis tentang strukturnya. Flamboyan ini sama persis seperti flamboyan yang dulu. Tangkai mudanya mengarah ke jendela kamar.

Akan kutunggu engkau, seperti aku menunggu flamboyan ini tumbuh besar dari balik kaca. Akan kusayang tanaman itu, jika memang itu saranmu. Tapi apapun tanaman itu–gelombang cinta atau flamboyan atau apalah semua jenisnya–pasti ia akan tumbuh dengan sendirinya, dengan terawat rapi atau sedikit liar. Dari balik kaca, tangkai itu mendekat, dan kembang melebat. Entah kapan akan berakhir.


1408.2015 | 8:47 AM

Share: