Inilah desa yang usang. Di mana banyak laki-laki memilih untuk tidak menikah hanya gara-gara cintanya yang lebih dulu usang. Bosan atas lika-liku cinta yang dianggapnya hanya begitu-begitu saja.

Di sinilah juga, tinggallah seorang bujang yang dulunya bukan bujang.

Sejak dua hari yang lalu, Katarma –seorang bujang tengah desa– merasa aneh dengan kedatangan dua tamu asing yang menginap di masjid depan rumah kontrakannya. Celingukan tanpa was-was setiap harinya, mengintai seribu delikan guna mengetahui apa yang dilakukan kedua tamu asing itu. Satu laki-laki, satu perempuan. Ketika waktu sholat tiba, kedua tamu asing itu tak ada di masjid. Pergi sejenak, atau mungkin mencari makan, batin Katarma setiap kali selesai sholat berjamaah.

Siapa kedua asing itu? Katarma sesekali mencoba mendatanginya tepat pada pukul sembilan malam. Sendirian. Sayangnya, Katarma hanya menemui satu tamu asing. Ia celingukan mencari-tahu kemana satu tamu asing yang lain. Entahlah. Ia hanya ingin sedikit bercakap-cakap.

“Selamat malam, Nyonya,” Katarma memulainya dengan sapaan. Sedikit gugup. Ia tak pernah menghadapi tamu asing yang benar-benar aneh harus menginap di masjid selama tiga hari. Tidak menunaikan sholat pula.

“Oh,” tamu asing wanita sedikit kaget, nyaris tersedak karena tadinya ia sedang minum sebotol minuman energi, “Selamat malam, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?”

“Tidak. Saya hanya ingin bertanya saja. Anda ini tamu dari mana, Nyonya? Dan mengapa Anda menginap di sini? Malahan Anda juga tidak mengerjakan sholat bersama pria Anda itu,” Kartama bertanya gusar. Kartama itu bisa jadi merupakan kurang bertata-krama. Maklum. Bujang.

“Kami di sini hendak melakukan penelitian, Tuan. Kami datang dari Pulau Kalimantan dan, maaf, kami memang tidak beragama Islam. Kami menginap di sini karena kami sudah meminta izin kepada bapak-bapak pengurus masjid ini, tidak ada tempat selain masjid ini katanya, Tuan.”

Duhai, kalian tahu wajah malu Kartama saat itu? Kadang urusan soal kesinisan itu sulit dihilangkan ketika sudah jadi kebiasaan. Kadang urusan soal kejengkelan itu sulit dibinasakan tatkala hati sudah bercampur-campur dengan bisikan kotor.

Tamu asing laki-laki datang tiba-tiba membawa tumpukan kertas. Kartama melirik sedikit, dilihatnya tertuliskan ‘Bantuan Donasi Kemanusiaan untuk Para Bujang’.

Share: