1.

Petang itu, saya dan ibu saya berangkat dari Stasiun Tanah Abang. Kami turun di Stasiun UI dan berjumpa dengan saudara kami di sana. Rumahnya tidak jauh amat dari UI dan ia berjalan kaki dari rumah kontrakannya di Margonda Raya menuju titik kedatangan kami. Namun, karena saya dan ibu bawa perkakas berat yang membuat lelah pundak jika dibawa sekian kilometer, kami memesan GrabCar.

Di mobil ada empat orang: satu sopir GrabCar, saya duduk di sebelah sopir, dan dua perempuan berstatus ibu di deret tengah.

Perbincangan terjadi antara dua penumpang—tidak termasuk saya berserta sopir.

“Palingan ke mal cuma cuci mata.”

“Nyucinya pakai sabun biar bersih.”

Siapa pun yang mendengar pasti tahu. Itu humor receh. Saya tidak tertawa. Sopir apalagi.

Saya mengira bahwa sopir GrabCar ini pasti merasa jengah atas perbincangan yang menjurus ke receh ini. Persis seperti saya. Sudah capek seharian di Jakarta, masih bisa-bisanya ngereceh ginian…

Tapi ternyata, sopir berkata, “Kalau mau lebih bersih, nyucinya pakai Bayclin.”

Saya pun mengalihkan wajah, menghadap ke kiri jalan, dan membatin bahwa hidup ini memang penuh kegetiran.

2.

Ibu saya mencari kedai Mochocino. Dicari-cari tidak ada, padahal sudah melaju sekian ribu kilometer di sepanjang Jalan Margonda Raya, Depok.

Ibu saya, dengan tidak kesalnya, bertanya dan saya tahu itu fifty-fifty antara harus dijawab atau tidak. Saya memilih tidak menjawab, lha wong saya nggak tahu dan nggak pernah ke tempat itu.

Akhirnya, pertanyaan ibu saya dijawab si bapak sopir (sambil melongokkan kepalanya lima atau lebih beberapa sentimeter mendekati gagang setir), “Mana ya, mana Mochocino?”

Saya, lagi-lagi, mengalihkan wajah. Menghadap ke kiri jalan dan berusaha menahan misuh. Hidup ini memang penuh kegetiran. (Dan saya telah menemukan sopir GrabCar tereceh sejauh saya menaiki ojek online.)

“Abang pintar melucu juga, ya?” ibu saya bertanya. Kali ini, saya tahu: itu nggak butuh jawaban.

3.

Dari deret kursi tengah, ibu bertanya, “Punya putra berapa?”

“Satu,” tukas si sopir.

“Emang pingin satu?” ibu berupaya menggali.

“Sepuluh!” jawab si sopir.

Saya kaget. Ibu saya kaget atau tidak, saya nggak tahu. Ibu hanya menimpali, “Seriusan?”

“Enggak, Bu. Bercanda…”

Saya malas mengalihkan wajah ke arah kiri jalan. Saya hanya mendapat satu wawasan: meski getir, hidup ini harus tetap dibercandai—walau lagi-lagi, bercanda memang tak sebercanda yang kau kira!


Selesai ketik di Depok, 21 Desember 2017, pukul 22.15 WIB.

Share: