dua keluputan petunjuk

Ketika hati telah meresap keimanan, terdapat hal-hal yang boleh jadi kerap dilupakan. Hidayah yang telah diterima masih saja ada yang luput. Keluputan itu sejatinya tidak selamanya luput dan itu bisa kita renungkan saat ini.

Dua hal yang itu adalah:

  1. Berupaya untuk selalu istiqomah di jalan kebenaran. Banyak hambatan untuk mempertahankan atau meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita. Baik hambatan internal yang asalnya dari diri sendiri, maupun hambatan eksternal yang berasal dari luar atau lingkungan. Satu dari sekian hambatan yang sering menimpa kita adalah hawa nafsu dan angan-angan yang sejatinya tiada guna.

Waki’[1] meriwayatkan dari Amru bin Munabbih dari Aufa bin Dal-ham bahwa Ali bin Abi Thalib berkata dalam suatu khutbahnya, “Sesungguhnya perkara yang sangat ditakutkan atas kamu adalah mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan.”Dalam riwayat lain disebutkan, “Sesungguhnya mengikuti hawa nafsu dapat menghalanginya dari kebenaran dan panjang angan-angan dapat membuatnya lupa akhirat.”

  1. Menebak orang yang mungkin telah mendoakan kita agar menerima hidayah itu. Kita memang tidak sepenuhnya tahu. Bila kita sudah menerima dan menjalani petunjuk tersebut, hal apa saja yang membuat kita menerima dan menjalani itu? Jangan lupa, sahabat dekat atau kawan yang kurang dekat dengan kita adalah satu dari sekian sebab mengapa kita diberi petunjuk.

    Dari Abu Darda’[2] bahwa dia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim berdoa untuk saudaranya yang tidak di hadapannya, maka malaikat yang ditugaskan kepadanya berkata, “Amin, dan bagimu seperti yang kau doakan.”.” [Shahih Muslim, kitab Doa wa Dzikir bab Fadli Doa fi Dahril Ghalib]

Mari, kita doakan sahabat kita walaupun kita tidak tahu apakah benar telah didoakan olehnya. Pun, doakan pula kepada sahabat kita yang belum menerima petunjuk atau malah menolak petunjuk yang jelas-jelas telah diterimanya.

_______________

Ananda Sevma Disusun di siang hari libur, 29 Rabi’ul Akhir 1436 H atau 19 Februari 2015,

di Ruang B-104, Fakultas Psikologi UGM

 

Referensi

[1] Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 12/383 dari jalur Waki’ dalam Al-Bidayah wan Nihayah oleh Ibnu Katsir.

[2] http://almanhaj.or.id/content/97/slash/0/orang-orang-yang-dikabulkan-doanya/  

Share: