Baca episode 1 dan 2 di sini

Post-production

Ini adalah bagian yang melelahkan bagi saya. Selain sebagai produser, sutradara, dan pencetus ide cerita, di film ini saya juga bertanggung jawab menyunting gambar dan suara.

Satu pemeran laki-laki (Andhika) harus membantu saya membuat musik latar film ini. Dibantu dengan kekasihnya (Ayu), kami berkreasi. Sehari tidak rampung. Hari esoknya, hanya Andhika dan saya yang bertukar pikir tentang musik latar. Total dua hari tetap tidak rampung. Butuh mastering tertentu sebelum menjadi berkas mp3.

Memotong gambar cukup melelahkan, apalagi menyeleksi suara. Karena produksi film ini sangatlah low budget, saya harus pintar-pintar mengakali gambar dan suara (yang tidak diinginkan).

Akhir Agustus selesai dan siap dikirim ke panitia RememberMe Film Festival 2017.

A teamB

Berfoto setelah selesai syuting di waduk UGM.

Eksibisi

Kami lolos! Ada 31 film se-Indonesia yang bertanding, tapi itu belum dicacah berdasarkan kategorinya. Film ‘Terngiang’ masuk kategori B (Mahasiswa & Pelajar). Ya kira-kira lebih dari 20 judul menjadi saingan kami.

Akan dipilih film terbaik di tiap kategori dan akan dipilih juga film terfavorit di tiap kategori. Film terfavorit ini mengacu pada jumlah likes. Awalnya, saya sudah mulai jengah. Kami satu-satunya yang berasal dari UGM. Kami seolah dituntut promosi dengan menyeruak, lalu meminta teman-teman kami memberi tanda suka film kami yang diunggah di kanal panitia. Tapi, tak apalah. Itung-itung sebagai belajar distribusi dan pemasaran (film).

Saya, dengan sopan dan berani, mengontak Wakil Dekan Fakultas Psikologi UGM untuk membantu kami. Yah…, minimal dengan memberi ttd di pesan berantai yang akan dikirimkan pihak Akademik. Saya juga membuat poster (yang mengiklankan) film ‘Terngiang’. Lalu meminta tolong kepada para kru dan pemeran untuk mengiklankan via akun media sosialnya. Meminta bantuan teman-teman dekat atau jauh untuk menyebarkan info lolosnya film ini. Selama satu minggu, saya menginisiasi itu. (Hingga lupa sejenak soal mendaftar sidang skripsi…)

A teamA

Berfoto di setelah menuntaskan beberapa adegan, di Banguntapan.

Sampai pada babak pengumuman, ‘Terngiang’ tidak juara. Kami urutan ketiga peraih likes terbanyak.

Namun, saya tidak sepenuhnya kecewa dengan hasil itu. Saya lebih banyak merasa bahagia. Bahagia sudah menuntaskan apa yang patut dituntaskan. Bahagia sudah memberi cerita dengan khazanah ilmu psikologi. Bahagia juga kalau film ini dinilai oleh Riri Riza, Mira Lesmana, dan Andy F. Noya.

Akhirnya, saya perlu berterima kasih kepada teman-teman kru kreatif dan pemeran film ini. Tanggal 16 November 2017, kami menghelat Sesyukuran sederhana di Bale Bebakaran, utara MM UGM. Kado silang dilaksanakan. Hadiah yang aneh-aneh didapatkan. (Beberapa hadiah dibungkus dengan aneh juga!)

Pengumuman nominasi kru terbanal (baca: biasa, enggan muluk-muluk), kru terberbakat, dan pemeran terbaik juga dilaksanakan. Kru terbanal adalah Widya selaku sutradara. Kru terberbakat adalah Bunda Afra selaku penulis naskah. Sementara pemeran terbaik adalah Andhika sebagai Sanang.

sesyukuran terngiang

Berfoto setelah makan-makan, berbagi kado silang, dan pengumuman penghargaan.

Terima kasih, teman-teman kru kreatif sudah bekerja dan berkreasi bersama. Saya rindu proses produksi itu. Kapan-kapan, kita bikin lagi ya? Ke festival yang beneran festival, mungkin. Atau, ke Cannes sekalian? Ah, tapi nyoba ke JAFF di Jogja dulu aja. Itu internasional, lho! Sembari nunggu kapan-kapannya, biarkan saya menulis cerita yang bermakna dalam dan puitik. Love y’all, guys! 

Share: