Meski menyertakan angka 212 pada judulnya, Wiro Sableng dicoret dari daftar pemeran…

Film yang menjunjung tinggi kekuatan cinta (power of love) bisa diselaraskan bahwa ia memiliki unsur positif dan memiliki harapan berupa kesunyian yang bersemayam di hati. Mencari Hilal (2015) merupakan salah satu judul yang menjunjung tinggi kekuatan cinta dengan kerangka dasar berupa perbedaan pola pikir anak dan bapak. Yang ditawarkan adalah nilai-nilai positif. Tapi film 212 The Power of Love (2018) ini keterlaluan positifnya. Embel-embelnya: berdasarkan kisah nyata. Kenyataannya: ia lahir karena peristiwa Aksi Bela Islam 212 (2 Desember 2016) yang terselenggara oleh sebab tokoh politik yang dianggap menistakan agama.

Konfliknya ada pada tokoh utama dengan bapak sekaligus sekelilingnya. Tentu kita bisa memungkiri, tokoh utama kita (Fauzi Baadila) adalah orang yang kelewat bebal, digadang-gadang sebagai penghambat pesan positif, dan ia durhaka. Ia hanya (berkekuatan) cinta kepada dirinya dan ibunya yang pada awal babak film ini meninggal dunia; meninggalkannya dan meninggalkan bapak (Humaidi Abas) si tokoh utama kita.

Terjadilah segala cekcok antara anak dan bapak. Mulailah segala luka keduanya yang dibuka secara blak-blakan. Anak yang bebal ini segan-tak-segan mencereweti bapaknya di kampung halamannya. Bapaknya juga, mencereweti balik. Kecerewetan mereka ada yang berhasil membuat penonton tertawa, tapi ada juga yang mengajak penonton supaya mengasihani si bapak. Dasar anak kurang ajar, nggak berakhlak karimah, dan ateis!

Beruntung, anak bebal ini punya satu kawan (Adhin Abdul Hakim): berambut gondrong, ngaku-ngaku radikalis yang romantis, dan memulai karakternya dengan mencereweti tokoh utama kita yang menulis opini di halaman utama koran tempat mereka bekerja. Opini itu mengenai Aksi Bela Islam 411 (4 November 2016) yang ditunggangi kegiatan politik praktis. Bos mereka (Roni Dozer) kesal dan staf lain di kantor berita tempat mereka bekerja ikut menyumpahserapahi si anak bebal. Rapat melingkar itu berujung pada kemarahan si anak bebal. Ia bilang bahwa sebaiknya ia dipecat, toh, ia bisa mencari kantor berita lain yang mau menampungnya. Sudah bebal, sombong pula. Positif?

Tentu positif. Selain dihiasi adu cerewet dengan bapak dan kawannya, hari-hari berkabung si anak bebal terasa adem dan tersemailah benih-benih cinta sebab lakon seorang muslimah (Meyda Sefira) yang turut membantu kesehatan ibunya si anak bebal sampai akhir hayat selama si anak bebal kerja di ibukota. Muslimah ini nyatanya kawan kecil si anak bebal. Kawan gondrongnya sempat kesengsem pada si muslimah. Tapi apa daya, melihat si anak bebal juga memiliki niatan serupa, kawan gondrong memudarkan kesengsemnya itu. Positif? Ini benar-benar positif… Ikhlaskanlah…

Apa yang terjadi kemudian? Unsur islami yang kental dan dikental-kentalkan dalam film ini tidak menyulut keberanian si anak bebal untuk melamar muslimah teman kecilnya. Tapi lihatlah mereka: si anak bebal mengajak muslimah berduaan pada malam hari di bawah pohon, kemudian mereka ditemani anak-anak perempuan yang asyik bermain kembang api. Kala salah satu anak itu membujuk si muslimah ikut bermain dan meninggalkan si anak bebal, (entah dengan dasar apa!?) adik laki-laki si muslimah datang. Mulanya, adik laki-laki (Hamas Syahid) yang wajahnya lebih jatmika ini bersikap biasa-biasa saja terhadap si anak bebal. Si anak bebal pun menyilakan untuk duduk di sampingnya. Apakah mereka bakal adu cerewet? Benar! Tidak ada sikap positif dari keduanya. Kalau mau dipaksakan positif, hal itu ada di karakter adik laki-laki. Ketika si anak bebal ceramah tentang (sebaiknya) dunia kuliah itu diisi dengan kegiatan yang bisa melatih proses bernalar atau saling tukar pendapat, si adik laki-laki membantah. Adik laki-laki justru pamer, “Saya ikut rohis!”

*

Si anak bebal mencegah bapaknya melakukan longmarch Aksi Bela Islam. Sudah renta dan sakit-sakitan, mbok ya tahu diri. Nanti bisa-bisa saja meletus kejadian seperti Aksi Reformasi ’98. Dan masih banyak keluh resah si anak bebal itu. Namun, bapaknya keras kepala. Ia yang dianggap sebagai agamawan di kampungnya harus ikut. Ke Jakarta, bersama umat se-Indonesia.

Saat aksi akhirnya bergejolak, si anak bebal kena razia oleh sekelompok orang yang tidak suka dengannya. Pasalnya, ketidaksukaan itu timbul karena si anak bebal ini adalah wartawan yang beragama Islam tapi turut menghancurkan Islam. Ia nyaris digilas kalau saja si muslimah teman kecilnya tiba-tiba datang bukan sebagai superhero. Muslimah membawakan ucapan-ucapan penuh pesan positif, sebisa mungkin ia akan menyinggung unsur islami dan nama ‘Allah’.

Secara keseluruhan, film ini mendidik. Level mendidiknya tentu dalam tataran ingin memberi tahu kepada khalayak bahwa aksi-aksi yang dulu pernah terjadi itu murni kegiatan positif untuk membela Islam. Aksi-aksi itu terselenggara bukan atas dasar politik praktis yang bersinggungan dengan pemilihan kepala daerah semata. Melainkan, seperti yang mungkin kita pernah dengar dan baca, itu semua murni karena Allah.

Parahnya, dari detik pertama sampai detik terakhir film ini, saya masih bertanya-tanya, kalau memang aksi mereka dianggap sebagai penuntutan tokoh politik yang menista dan sebagai pembelaan Islam, apakah sulit sekali menyebutkan (secara eksplisit) nama tokoh politik yang mereka tuntut dan maksudkan? Wallahu a’lam…

 

Share: