gs

Kalau ada bumbu yang kelayakan pakainya mudah diragukan, bumbu itu namanya bumbu gombal. Betapa banyak orang mendengungkan gombal, tetapi hanya sebatas guyonan. Dalam tirai maya atau obrolan canda keseharian. Bermodalkan dengan bapak kamu ini ya, pantas kamu begini. Atau sebatas mengibaratkan dengan analogi abal-abal.

Jelas, aku bisa menjadi pakar gombal. Bahkan siapapun. Siapapun bisa menjadi pakar gombal. Manusia bisa menjadi pakarnya pakar gombal saat yang dikasihinya tiada di sisinya. Seolah-olah berlatih nyali, padahal kalau nanti bersua hanya sedikit bercuap, selayak belum pernah bersua.

Menggombal memang butuh latihan. Latihan nggombal adalah dengan gombal. Dengan serbet kain multifungsi yang warna dan baunya tidak cocok di hidung siapapun. Itulah arti gombal, bukan? Mengelap meja, mengelap motor, mengelap jendela, dan sesekalinya mengelap lantai. Gombal dalam arti rayuan cinta itu sederajat dengan arti serbet kain, atau tidak?

***

Rasanya, engkau tak pernah aku gombali. Orang lain juga tak ada berani menggombalimu. Bagiku, menggombalimu sepadan dengan mengejekmu. Mencelamu.

Bidadari kok digombali? Maaf. Aku tak bermaksud menggombalimu. Aku hanya sedikit memakai kata yang hiperbola. Engkau pasti tahu pelajaran Bahasa Indonesia saat SMA. Sebatas majas. Sebatas gaya bahasa.

Namun, siapa sangka jika engkau benarlah bidadari adanya. Toh, kalau ada survei ke orang-orang dekatmu, mereka juga akan setuju. Hasilnya akan signifikan. Bahwa engkau adalah bidadari bukan lagi hiperbola. Survei ikut membuktikan.

Setelah aku pikir-pikir, engkau juga takkan peduli sedikit pun dengan gombalan yang akan dan telah terucap. Sekalipun multifungsi, bagimu itu takkan berfungsi untuk hati. Gombal secara hakiki ialah sarana mendorong perasaan dan memaksakan kehendak lawan agar jatuh. Sudah jatuh tertimpa cinta. Cinta buta.

Seharusnya para lelaki punya kesepakatan. Wanita tercerdas adalah wanita yang tidak bisa digombali. Benar-benar tidak bisa. Itu juga perlu berlaku sebaliknya.

***

Turunnya hujan bukanlah pertanda sah seseorang untuk menggalau. Menepis kegundahan itu bisa saja dengan latihan nggombal. Kala hujan deras, beberapa pertokoan yang tutup menjadi persinggahan sementara beberapa pasang manusia. Ada yang lawan jenis, ada pula yang sesama jenis. Ada juga yang sendirian.

Sepasang lawan jenis seolah-olah sama-sama merasa sendu. Lupa bawa mantel, akhirnya menikmati hujan bersama sampai redanya datang. Bila hujan semakin deras, sendunya pun ikut deras. Bila hujan mereda, rasanya tidak ingin sesegera beranjak lalang. Kepada sang hujan, ia protes. Mengapa engkau tidak berlama-lama membasahi tanah bumi? Secepat itukah engkau hinggap? Tidak ada gombal. Makin sendu dalam perjalanan pulang.

Berbeda dengan sesama jenis. Kesenduan yang dirasakan tidak bisa melampaui yang lawan jenis. Tetapi rasanya mereka justru benar-benar berlatih gombal, khusus untuk sesama lelaki. Hujan yang deras. Sepintas saja mereka melihat seorang wanita atau lebih. Kendaraan roda dua menepi. Bibir kedua lelaki mulai membuka gombal dengan kicau. Piuwit! Hampir semua yang mendengar kicau itu risih. Jelas. Apalagi kalau yang mendengar itu adalah seorang lelaki juga. Wahai hujan, segeralah reda. Tidak hanya wanita yang digombali itu saja yang risih. Aku juga.

Aku berada di depan toko kelontong yang tutup. Aku ikut sendu melihat hujan yang dilihat oleh para peneduh. Aku juga ikut risih melihat polah para lelaki yang adu gombal melalui kicauan bibir. Wahai engkau, benarkah hujan ini menetes di sekeliling sisimu?

***

Hujan yang sudah reda menitipkan pesan pada jejak perjalanan para peneduh.

Itulah pelangi. Konon, tujuh warna berkolaborasi dalam lengkungan. Hujan membuat sendu, pelangi membuat rindu. Wahai engkau, seberapa rindukah engkau dengan pelangi?

“Bapak kamu pasti pembuat payung ya?”

“Iya, kok tahu…”

“Karena kamu telah meneduhiku dari derasnya hujan kali ini…”

“Eaaa!”teriak dua lelaki yang bersiap untuk beranjak pergi setelah saling latihan gombal. Risih.

Wahai engkau, seberapa risihkah engkau dengan gombal?

Piuwit!

_________

Written by Sevma

1604|2015

_________

Posted at morning

2104|2015

Soekarno-Hatta International Airport

Share: