Payung tosca

Inilah lanjutan, yang kemudian entah dari mana ide ini datang. Datangnya tiba-tiba. Setelah sekian (tidak) lamanya aku berdiam diri. Padahal aku tidak sengaja, menguntai waktu demi waktu dan perlahan-lahan tersisa-siakan oleh aktivitas yang tidak sia-sia.

Ketika jemari kaki mulai kesemutan, aku berusaha meluruskannya. Semut-semut nyatanya merupakan aliran darah yang sempat berhenti dan mengalir secara tersendat. Semut-semut menghilang, aku tidak lagi kesemutan.

Aku berjalan keluar ruangan ini. Aku ambil sepasang sepatuku. Aku masukkan ke dalam ruangan. Siang ini hujan. Hujan yang deras. Kaos kakiku telanjur basah. Kaos kaki sebelah kanan lebih menyengat.

Ruangan ini aku tutup. Aku sendiri menulis beberapa rangkaian kata untukmu. Sebentar lagi engkau pasti datang kemari. Jika tidak datang, aku yang mendatangi.

Hujan tidak mereda. Masih saja ia merontokkan airnya di atap ruangan ini. Menggelayutkan daun-daun dan justru membuatku jauh dengan tergelayut. Petir sesekali menyambar walau tidak keras. Aku melihat beberapa orang berjalan di luar sana. Membawa payung ditemani teman-temannya. Satu payung untuk berenam. Yang tidak sigap berlari akan terkena hujan. Mereka tertawa. Injakan dari setiap larinya menciprati pintu ruangan ini. Suara tawanya kemudian menjauh, lalu menghilang.

Jika engkau memang tak datang, aku akan keluar lalu menemuimu. Akan aku bawakan tulisan yang tidak bisa dicerna hanya sekali baca. Tetapi masih saja. Engkau tidak datang.

Oh, aku tahu. Mungkin saja engkau tidak membawa payung itu. Engkau sedang berteguh, mungkin. Atau, engkau melanjutkan obrolan kemarin sore dengan teman terbaikmu. Mengobrolkan masa depan, atau setidaknya mengobrolkan esok hari.

Baiklah kalau begitu, aku keluar saja. Aku pakai sepasang sepatuku tanpa kaos kaki. Aku bergegas. Payung di balik pintu aku ambil. Serentak aku kembangkan ke arah luar. Payungnya berlubang-lubang. Beberapa tetes air bisa melewati dua-tiga lubang di sela-selanya. Kacau, padahal aku buru-buru.

Aku selesaikan tulisan ini dengan menulis kata-kata terakhir: Hati-hati, hujan deras!

Engkau datang kemudian dari belokan gedung sebelah. Aku akhirnya tersenyum, lalu berlari.

Tetapi. Jebum!!! Aku terperosok ke dalam lubang yang tak terlihat. Lalu terjatuh. Lalu tenggelam. Aku pun menemui beberapa orang yang menginjak air dan mencipratkannya ke pintu ruangan tadi.

Aku sempat mendengarkan kata-katamu. “Hati-hati, hujan deras!”

_________

Written by Sevma

2105|2015

Share: