ia-albert-elbindo

Aku bisa membayangkan model rambutnya kalau saja ia mau gondrong dan menyimpan uangnya dari kegiatan transaksi potong rambut. Rambutnya pendek dan pernah dipuji keren oleh atasan paling atas. Kadang-kadang, bibir bagian bawahnya ia julurkan lebih maju daripada bagian atas meski secara normal keduanya tidak saling maju. Kalau kebingungan menghinggap dan keruwetan kerja sedang aktif, tangan kanannya akan meletakkan apa-apa yang digenggam dan menggerakkannya ke rambut pendek. Garuk-garuklah ia barang sebentar. Dan bila senggang merayap pelan-pelan, ia akan mengecek ponselnya. Dan bila senggang merayap lamat-lamat, ia akan menelepon kawan kerjanya di lantai atas, tidak menggunakan ponselnya (harga pulsa telepon tidak pernah murah bagi dua operator berbeda). Dan bila senggang merayap secara menyenangkan, aku akan mengajaknya mengobrol.

Ia satu ruangan denganku. Kami bercakap dengan menggunakan bahasa Indonesia, bahasa Jawa, dan bahasa Inggris. Kalau saja ada pertambahan waktu yang sanggup mengajari kami cara berbahasa dengan baik, bahasa Belanda dan bahasa Cina aku rasa cocok juga mengisi obrolan kami sehari-hari. Namun, ia tampak sibuk dengan tugasnya. Aku tak cukup sibuk sepertinya. Kegiatan menyelia, barangkali, akan membuatmu bergembira sampai tak tahu ujung tuntasnya. Tak tahu pula di mana letak letihnya. Kau semestinya bersyukur tidak perlu repot-repot naik-turun tangga, ke lantai empat, lalu turun ke lantai satu, lalu naik lagi, ketuk pintu atasan, ketuk pintu kolega, lalu turun lagi, masuk ke ruangan kerja dan menelepon pihak-pihak yang harus menerima laporan, dan seterusnya, dan seterusnya. Ia melakukan itu. Betul-betul pekerja keras.

2015, ia lulus; 2018 mulai bekerja di tempatku kerja. Banyak cerita ia torehkan, tentang sehimpun pekerjaannya terdahulu, asal-usul tempat kerja, kesaksian studi, dan pelbagai macam lainnya. Setiap hari, ia memesan ojek online untuk mengantar kerja dan berpulang. Kemacetan, kupikir, telah menjadi barang runyam yang tak kita sepakati apakah akan menjadi barang istimewa di ibukota atau tidak. Kita tak perlu berdebat tentang hakikat kemacetan. Ia telah hapal jauh-jauh waktu, jauh dari tahun 2019 ini. Sejak ia SMA, SMP, SD, atau masih meminta disuapi, ia punya kisahnya sendiri. Aku tak mendengarkan banyak hal tentang itu. Tiga minggu adalah waktu yang pendek berada satu ruangan dengannya. Berawal di hari Jumat, berakhir pula di hari Jumat. (Seperti dalil tentang kiamat? Dan ini layak dinamai kiamat kecil-kecilan? Tidak.) Aku mencegah kehendaknya, bukankah masih ada satu bulan masa kontrak. Bulan April adalah bulan yang aku maksud.

Namun, ia tampaknya telah mencapai kadar mantap untuk tidak lagi satu ruangan denganku, tidak lagi ke luar-masuk ruangan membawa berkas-berkas penting, tidak lagi menyapaku “Guten Morgen” saat aku datang lebih pagi, tidak lagi becakap-cakap dengan bahasa Jawa sehingga aku cukup diuji supaya tidak lupa pada bahasa ibu, tidak lagi dipesankan kopi yang sedang menawarkan harga diskon senilai lima ribu rupiah.

Aku percaya, ia akan menjadi laki-laki yang terus selalu tertawa dan melontarkan humor receh seumuran, sering tak pandai menyembunyikan emosi, sukses di bidang yang ia tekuni (teknologi dan penjualan), dan suatu saat, akan bertemu denganku. See you, Albert!

Share: