Karena tertidur, Adi iMop melewati stasiun Lenteng Agung begitu saja. Turun di Pondok Cina, iMop naik kereta komuter lagi. Ke Lenteng Agung, iMop terjaga atau tidak tertidur.

iMop jalan kaki dari stasiun ke depan indekos saya. Pagi itu, tidak renyah dianggap pagi-pagi sekali. Pukul setengah tujuh, para pesibuk di ibukota sudah rapi, menyangking tas atau barang berharganya, mengantri di jalanan atau peron. Sementara saya? Saya belum mandi, terhitung masih aras-arasen, dan prinsip hidup luntang-lantung sepertinya menyublim saat pada akhirnya saya bertemu iMop. Pagi itu adalah pagi miliknya hari Kamis, 28 Maret 2018.

*

Saya ingin sekali mengajak iMop ke pameran buku termewah di negara Indonesia. Big Bad Wolf namanya, BBW singkatnya. Namun, kantor saya menerima undangan preview pass sebagai pertanda dibolehkannya masuk BBW di satu hari sebelum resmi dibuka. Tanpa iMop, saya ke BBW di BSD. Saya memborong buku-buku yang menyenangkan bagi saya. Saya tidak sendiri. Saya datang bersama tiga perempuan rekan sekantor.

Saya bertekad bakal ke BBW lagi. Dengan iMop mungkin.

*

iMop kembali dari lawatannya ke kediaman teman SMA-nya alumnus Universitas Indonesia, universitas terbaik versi mahasiswa UI.

Malamnya, saya dan iMop bertamasya dengan pakaian ala kadarnya. Ke Depok Mall (D Mall), kami naik kereta komuter dan berjalan kaki setelah turun di stasiun terdekat D Mall. (Cukup bikin capek.)

Alasan terkuat saya memilih D Mall sebagai tempat tamasya malam itu ada 2:

  1. Belum pernah ke D Mall
  2. Pengin nonton di CGV—setelah beberapa kali saya nontonnya sekadar di Cinemaxx

Perkara yang tidak begitu krusial ternyata daftar judul dan jadwal di CGV waktu itu membuat kami memilih tidak jadi nonton. Kalaupun ada yang memiliki jadwal yang pas, nyatanya saya sudah nonton film tersebut (Love for Sale) sebelum film tersebut mendapatkan sertifikasi sensor.

Maka, lebih baik dan alangkah indahnya, acara makan malam adalah tamasya yang bisa saya anggap sangat jatmika ketimbang pulang tanpa tuah pengalaman di D Mall. Kentucky Fried Chicken menjadi depot terpilih, padahal, ngantrinya mengular. Ada apa ini? Ketika mengantri, saya melihat tulisan ada diskon 50% khusus. iMop mencari informasi: promo KFC Special 5, dengan total harga cukup 50 ribu. Pantas saja, antrinya mengular.

Selesai transaksi, kami makan masing-masing satu potong di tempat, tanpa nasi. Selesai makan, perut memang tak begitu kenyang, tetapi berjalan ke stasiun sepertinya lebih melelahkan daripada berangkatnya. Maka, GrabCar adalah pilihan yang jatmika di tamasya malam itu. (Hei, besok pagi masuk kerja! (Eh, badminton dulu, ding. Kan Jumat!))

Sebelum masuk area indekos, saya mengajak iMop untuk beli mendoan khas Gombong—yang juga daerah muasalnya Akhmad Kurniawan. Saya bilang ke bapak penjual, ini teman saya, asal Kebumen, dalam bahasa Jawa. Lantas, iMop dan bapak penjual mendoan menjalin obrolan mengenai daerah mereka masing-masing, dalam bahasa Ngapak.

Sepulangnya, saya dan iMop menghabiskan mendoan khas Gombong. Dengan cucuran saos kecap dan mencokot cabai hijau, mendoan adalah makanan syahdu di malam Jumat.

*

Saya perlu dua kali untuk meyakinkan iMop supaya segan mengendarai sepeda motor saya yang berplat AB itu. Cukup antar saya ke gedung olahraga dan serbaguna Jagakarsa agar saya bisa badminton bersama rekan-rekan sekantor, lalu pakailah saja, Mop.

Ke Pamulang, iMop berencana menengok keponakannya, anak dari kakak laki-lakinya.

Saya pun beraktivitas. iMop juga.

iMop sendirian ke Pamulang…

*

Sore hari, tidak seperti sore-sore pada umumnya, saya dijemput seorang laki-laki yang seharian bertandang ke Pamulang menengok kakak dan keponakannya. Pembaca yang budiman pasti sudah tahu namanya. iMop!

Setelah saya mandi, petang itu, pertama kalinya saya dan iMop magriban di masjid bersama di ibukota, di Jakarta Selatan. Namun, malam itu, iMop pamit hendak menginap di tempat tinggal kawan SMA-nya, di Depok, dekat Universitas Indonesia.

Rencananya, keesokan Jumat, iMop hendak tamasya ke Lampung. Itu akan menjadi pengalaman pertama bagi iMop dalam rangka menginjakkan kaki di luar Pulau Jawa. (Dari situ, kita tahu bahwa iMop tak pernah ke Bali, Madura, maupun Nusakambangan. (Saya sih pernah.))

(O, ya, saya nitip beberapa berkas film (New Love in New Home) yang pernah saya buat bersama kawan sefakultas pada seminggu sebelum saya wisuda. Film pendek itu pernah dinyatakan tidak menang di suatu kompetisi kampus, dan bulan itu, Festival Film Lampung sedang masa-masa menerima film-film pendek. (Di kemudian hari, saya mengirim berkas film lain (Terngiang) melalui daring Google Drive.) 2 film pendek yang dibuat pada tahun 2017 itu diumumkan lolos seminggu setelah iMop mengirimkan berkasnya dan setelah saya mengunggah berkas satunya lagi.)

*

iMop bilang bahwa ia menaruh minat dengan sangat terhadap acara Islamic Book Fair 2018. Sampai April tiba dan acara sukses selesai, iMop—yang pernah ke Lampung dan kembali ke Pamulang lalu pulang ke Kebumen—tidak kunjung datang ke Jakarta.

Jumpa dan pisah saya dengan iMop di akhir bulan Maret memang tidak sedrama yang bisa kita harapkan. Namun, ini bisa dibilang cukup menyebalkan. Jika bertamasya dengan Akhmad dan Aliza saja saya bisa menjamin bakal bertamasya lagi di hari-hari lain dan di tempat yang bisa sama maupun beda pun tak apa, bagaimana jika iMop hanya menawarkan satu tamasya saja—ke D Mall saja, maksudnya—dan sulit menyelenggarakan tamasya lain?

Saya bertemu lagi dengan iMop. Bulan April. Di Jogja.

Bersambung…

Share: