6 kapal seberang

Sebagian dari para pejalan kaki mulai melepas penat di antrean ini. Inilah antrean panjang tentang perpisahan menuju pertemuan. Berpisah dari alam sementara, menuju temu ke negeri seberang. Para pejalan kaki berbondong memikul barang bawaannya. Ada karung, ada koper, ada juga hewan peliharaan.

Tetapi, aku cukup lega menoleh diriku di antrian awal. Sebentar lagi jatahku memasuki kapal. Walau tempat dudukku tak seindah lantai atas, lantai bawah cukup membuatku nyaman. Di situlah aku nanti bisa melihat lautan sejajar dengan tempat dudukku. Menggenang dan mengapung bersama kapal.

Aku masuk ruangan lantai bawah. Perabotan yang usang sepertinya tidak pernah disingkirkan. Yang ada justru tumbuh jaring-jaring antar bendanya. Kursi rusak semua. Semua penumpang lantai bawah duduk di lantai. Tidak ada yang duduk di kursi. Aku rasa ini benar-benar kebalikan dari kondisi di lantai atas.

Antrean di luar masih memanjang. Pelan-pelan memendek.

Semua penduduk kota ini bergegas menuju kapal terpanjang yang pernah singgah di dermaga kota kami. Termasuk engkau, yang ikut menaiki kapal ini. Sayangnya, engkau duduk di lantai atas. Engkau pastilah masih mengantre.

Perjalanan menuju negeri seberang sudah dimulai. Kapal diberangkatkan. Tidak ada yang melambaikan tangan di luar kapal. Kota itu baru saja ditinggalkan semua penduduknya. Kosong. Lengang. Entah kapan kosong dan lengangnya itu akan berakhir. Entah kapan kami para penumpang kembali.

Engkau ada di lantai atas. Duduk di kursi. Mewah.

***

Tidak ada lagu-lagu pengiring perjalanan di lantai bawah. Senyap.

Celoteh para penumpang justru membuat hawa di ruangan ini semakin panas. Padahal, semua jendela tak ada yang ditutup.

Hingga pada waktu telah berjalan lama, penumpang mulai lelah. Aku tertidur dengan alas dua karung bawaanku. Aku bermimpi sedang berada di lantai atas. Bersamamu. Duduk di kursi. Mewah.

***

Penumpang-penumpang terbangun kaget. Mereka bersiap-siap memikul barang bawaannya, tak terkecuali aku. Kami telah sampai di negeri seberang. Lontaran senyum disunggingkan semua penumpang, tak terkecuali para nakhoda.

Aku menilik rombongan lantai atas, mencoba mencarimu.

Sambil bingung aku lama mencari, aku tak menemukanmu. Aku tanya saja kepada penjaga ruang lantai atas.

“Maaf, wanita berselendang merah yang dilipat di pundaknya itu sudah turun atau belum?”

Penjaga itu menjawab, “Wanita itu telah turun lebih dahulu bersama beberapa penumpang lain di negeri sebelum ini.”

Aku membatin, “Jadi? Sebenarnya ada berapa negeri yang dikunjungi kapal ini?”

Perasaan kecewa menyemburat. Tak bisa disembunyikan raut kesal pada wajahku. Aku turun dari kapal. Dan berharap agar pulang ke kota secepatnya. Entah kapan kecewa dan kesalku itu akan berakhir. Entah kapan aku kembali untuk menemuimu lagi.


10.39 AM, 1207.2015

Share: