ke-bandung-1

Bagaimana jika nasibmu ditentukan oleh dentang jarum jam yang baterainya sudah habis dan membikin kesal sekian menit karena kamu butuh kepastian tentang perjalanan ke luar kota? Mungkin, kamu ingat petuah orang-orang keren di Instagram, mungkin juga tidak ingat. Mungkin kamu akan ingat perjuangan para pahlawan yang pada hari ini kerap dilupakan oleh orang-orang keren di Instagram.

Tapi dentang jarum jam mudah dilupakan. Aku pun tidak begitu mempermasalahkan itu. Terlebih beberapa jam lagi, aku harus ke Bandung. Aku bilang ke iBint terlebih dulu. Bahagianya, ia berkenan menjemputku dan mempersilakanku menginap di rumahnya.

Dari Gambir ke Bandung, naik kereta, kira-kira tidak sampai berabad-abad lamanya. Kalau kamu takut dengan harga-harga makanan di kereta, teladanilah aku: makan terlebih dahulu di rumahmu, atau di warung dekat rumahmu. Minum secukupnya. Bawa air minum seperlunya.

*

Aku sendirian saja ke Gambir. Setelah mencari nomor kursiku, aku tidak sendirian. Adalah seorang laki-laki, yang kutebak dalam hati, umurnya kurang dari 55, tapi lebih dari 45. Kami diam selama perjalanan ke Bandung. Durasi jalan yang memakan waktu hingga 3 jam lebih hanya tertuturkan satu prolog dan satu epilog saja. Maksudku, tidak ada obrolan sana-sini.

“Makan, Pak?” itu tawaran beliau kepadaku, yang kemudian kutimpali, “Oh, silakan.”

Dan epilognya adalah perkataanku, “Setelah Cimahi, tinggal 1 stasiun saja, Pak?” yang dijawab beliau dengan “Iya.”

Lebaran tahun 2018 lalu, aku pernah ke Stasiun Bandung, sekadar transit dari Jogja ke Jakarta. Waktu itu aku tidak keluar ke mana-mana. Itu berdasar: beberapa jam lagi kereta ke Jakarta akan berangkat. Bila ada waktu, setidaknya, setengah hari transit, mungkin aku akan keluar barang sebentar. Mencari lokasi ikonik kota ini. Menjepret sekian foto untuk dibagikan di Instagram atau sekadar memenuhi memori ponsel.

Akhir Januari 2019 berbeda dengan lebaran. Aku lebih menubuatkan perjalanan ke Bandung ini sebagai liburan singkat sebelum liburan panjang. Saat kereta tiba dan iBint tengah menungguku di depan pintu masuk dengan motornya, aku masih belum memesan tiket balik ke Jakarta.

*

Apa pemandangan pertama di Kota Bandung? Aku ingin jujur kepadamu dan kamu tidak perlu merahasiakan ini karena ini sudah jadi perihal yang terjadi kewajarannya bila kamu keliling kota larut malam. Jadi, apa pemandangan pertama di Kota Bandung? Cewek-cewek.

Tidak perlu mengusik pikiranku dengan bertanya tentang bagaimana maksudmu, atau memangnya cowok-cowok tidak, atau mengapa begitu bisa terjadi. Lebih baik, lakukan sendiri saja. iBint juga baru mengetahui itu. (Atau, ia begitu menjaga image? Belingsat…)

Sayangnya rasa lapar lebih menghantuiku ketimbang cewek-cewek yang ada. Tak lagi di kota, iBint mengenalkan kawasan dekat rumahnya.

“Buah Batu.”

“Emang buah batunya di mana?” aku bertanya, siapa tahu ada cerita.

“Wah, enggak tahu kalau itu.” singkat iBint menjawab.

Kami berhenti di salah satu warung nasi goreng kambing. Di kiri jalan, berderet warung-warung nasi goreng kambing. Rata-rata sepi. Kenapa kami berhenti di tempat itu, karena aku sedikit lebih percaya dengan adanya beberapa pembeli—meski hanya ada tiga muda-mudi yang cerewet dan tidak mau ngalih tatkala warung itu terlalu sempit dan saat kami datang nyaris tidak kebagian kursi.

Di spanduk samping warung, tertulis pilihan menu nasi goreng. Ada kambing, ada pete, ada lain-lainnya. Aku pesan nasgor kambing pete, dijawab penjual, “Tidak ada. Adanya yang biasa.” Beruntung hatiku sedang baik-baiknya. Jadi, aku manut.

“Satu ya, Mas.”

Tahukah kamu, mata penjual ini sedikit mendelik. Ke mana lagi kalau bukan ke mataku.

Oh, yeah, ada yang salah. Aku lantas ingat, ini Bandung, bahasanya bahasa Sunda. Bukan Mas. Melainkan Aa’.

Semoga nasi goreng kambing yang ia masak tetap selezat nasi goreng kambing pada umumnya…

*

Dari Buah Batu, lewat Bojongsoang, lalu belok kiri, ke daerah Ciganitri. Di situlah iBint tinggal. Tidak jauh dari kampus TELKOM. Tapi jauh dari institut teknologi terbaik se-Bandung.

Jalanan Ciganitri bisa dibilang banyak lukanya. “Padahal ini jadi jalan utama,” ujar iBint.

Aku pikir, karena ini daerahnya sudah masuk kabupaten, mungkin mirip-mirip daerah Sleman atau Bantul di Jogja. Sleman dan Bantul itu kabupaten. Hanya saja, jalanan Ciganitri tidak semolek Jogja, deh… Positifnya, lingkungan tersebut diselimuti hawa dingin yang menentramkan.

Ketika tidur menjadi perilaku sebelum bangun pagi, dan AC adalah sahabat yang mengharamkan hawa hangat, aku merasakan kedinginan yang sangat. Aku ingin mematikan saja AC di kamar iBint. Tapi iBint sedang nyenyak, aku tidak sopan betul jika tiba-tiba harus mengambil remote di dekat kakinya lalu menekan tombol OFF.

Lebih baik, aku tidur di sisi kamar yang tidak kena hantaran udara dingin dari AC secara langsung. Beberapa jam lagi, toh, aku harus bangun pagi. Liburan di Bandung benar-benar singkat. Tapi dinginnya menentramkan…

SELANJUTNYA: Ke Bandung, Tidak ke Surabaya (2)

Share: