bandung-pasteur-braga

Bangun pagi, tunaikan ibadah, dan rasakanlah. Rasakanlah air Bandung yang dingin pada pagi hari. Meski sudah jatuh dan mbleber di lantai kamar mandi, dinginnya masih terasa. Rasakanlah. Nyesss…

Sebaiknya pagi ini tidak mandi dulu. Mandi bisa diulur. Alasannya jelas, karena dingin airnya.

*

Di kawasan Braga, parkir sepeda motor sudah canggih. Ketik plat nomormu di mesin pencatat yang didesain cukup unik. Kalau pakai e-Money, pakai saja untuk transaksi. Waktu itu, kartu Flazz belum bisa. Kata bapak pengatur parkir, sedang digarap.

Tentu, kedatangan aku dan iBint ke Braga bukan untuk menghayati benda canggih yang berguna bagi perparkiran Kota Bandung. Kawasan ikonik ini banyak kedai yang bisa menjadi tempat nongkrong. Kamu bisa membeli segelas Kopi Djawa, seperti iBint. Atau mencicip nasi goreng dengan kikil sebagai topping yang ada di Braga CityWalk, sepertiku.

kopi-djawa-braga

iBint transaksi Kopi Djawa

nasgor-kikil-braga

Nasi goreng dan kikilnya

Jelang siang, iBint gegas ke kediaman keluarganya, tidak jauh dari Braga. Aku sendirian di Braga. Jalan ke sana, ke mari, bingung hendak berdiam diri di mana. Jalan Braga ramai betul. Mobil lebih banyak. Dan setiap saat, akan ada bus tanpa jendela berisi penumpang yang bisa disebut turis lokal. Bus itu lewat, ada pemandunya yang mengenalkan daerah Braga—sebab mereka tengah melewati Jalan Braga.

Aku pun memilih satu tempat yang menyediakan minuman susu matcha. Niatnya, aku ingin menulis cerita pendek atau meneruskan cerita panjang yang sudah-lama-mangkrak dan belum-ingin-dibenahi-kembali. Akan tetapi, jalanan luar memang berisik. Sialan. Akhirnya aku memilih untuk membaca buku digital saja. Cukup syahdu juga ternyata…

*

Pasteur ramai. Jalan Djunjunan buktinya. Walau ramai, tidak ada seorang pengendara yang melawan arus. Klakson juga hampir tidak terdengar. Apakah ini sambutan Bandung untukku? Di siang hingga senja begini ini? Kurang lebih, itu hanyalah tabiat yang membiasa. Aku rasa kepatuhan lalu lintas adalah barang bukti bahwa Bandung tidak beringas.

Enaknya, aku pulang ke Jakarta pada malam itu juga atau besok saja? Masa sehari belaka aku di Bandung? Aku sendiri ingin naik travel—meniru apa yang pernah dilakukan iBint. Maka, aku bahagia saat melihat jadwal travel di Traveloka, semuanya penuh untuk malam itu. Pun saat aku ketuk dua kantor travel di kawasan Pasteur: dinyatakan bahwa harga offline lebih mahal daripada naik kereta atau dua kali harga travel di Traveloka. Aku bilang ke iBint, aku tidak jadi pulang ke Jakarta malam itu. Besok saja…

*

Aku memasuki Riau Junction, banyak peranti berwarna merah, banyak aksara Cina. Aku naik ke lantai dua, lalu ke lantai tiga. Di koridor itu, isinya pakaian dan mainan anak-anak. Aku turun ke lantai dua, lalu ke lantai satu, lalu bertanya kepada iBint melalui pesan WhatsApp tentang di manakah keberadaannya.

Ia di luar. Aku pun keluar. Ia menyambutku dan mengajakku ke kawasan yang dijuluki iBint sebagai kawasan-Jalan-Cenderawasih-Jogja-nya-Bandung. Intinya, gerai distro bertebaran di sebelah kanan jalan. Di sebelah kiri, ada warung kaki lima: ada yang ramai karena mendirikan tenda, ada yang sepi karena sekadar berbekal sepeda.

ibint-riau-junction

Pose iBint yang hmm-hmm-hmm-Nissa-Sabyan

Setelah iBint membeli pakaian yang mampu menampilkan sisi kharisma seorang pria, kami makan malam. Hmm.. Ada kol goreng. Sambalnya memiliki ketanggungan akan kepedasan.

*

Sebelum tidur menjadi laku peristiwa yang sebagaimana mestinya, aku makan siomay khas Bandung. Memang beda, sih. Siomay saja yang beda. Maksudku, bahan berupa ikan lebih kuat terasa. Cara mengunyahnya juga lebih banyak daripada siomay yang pernah kubeli di Jakarta maupun di Jogja; lebih padat. Ada pun kobis, menurutku, sama sahaja. Tetap renyah seperti sedia kala ia menjadi imbuhan siomay.

*

Bagaimana jika nasibmu ditentukan oleh aplikasi pencari kerja dan ia akan memberi peringatan setiap dua hari sekali bahwa ada pekerjaan menarik, asyik, sesuai ketertarikan hati, dan tidak membikin kesal sekian jam atau membikinmu ogah menerapkan prinsip makan empat sehat lima sempurna dan malas berolahraga setiap minggu?

Mungkin, kamu butuh istirahat, butuh jeda kerja sementara. Menulis adalah pilihan luhur. Luhur betul bahkan! Jika menulis dianggap sebagai ajang orang hebat, ingatlah bahwa petuah orang-orang keren di Instagram itu juga dianggap sebagai petuah yang hebat.

Dan apabila hari Kamis, tanggal 31 Januari 2019 sudah datang, aku tidak bisa berlama-lama di kota ini. Kota yang asyik, menerbitkan bahagia, dan bisa kausambangi berkali-kali, dengan dia atau sendiri.

Aku pulang ke Jakarta pagi itu. Turun di Senen. Lalu ke kantor… Di tengah acara perpisahan, aku memberi tahu kepada hadirin kolega sekantor, “Kemarin, saya ke Bandung, ada panggilan kerja.”

Ingin aku tambahi kalimat ‘liburanku kemarin sangat menyenangkan’, tapi aku urung. Bagaimana jika para pendengar meneladani apa yang telah kulakoni? Pastilah senang adanya…

Share: