Saya menahan tangis setelah adik saya menulis pesan bahwa nenek saya sudah nggak ada.

Simbah meninggal…

Akhir Januari lalu adalah waktu terakhir kalinya saya bertemu dengannya. Saya berpamitan untuk meniti karier di ibukota. Simbah memeluk saya, menangis kemudian. Cucu pertamanya telah bekerja, tapi tidak di dekatnya, tidak di Jogja, dan sedikit bersikap paksa memilih Jakarta sebagai titian kariernya.

“Nggo sinau urip…,” kata Simbah. Buat belajar hidup, artinya.

Simbah sehat-sehat, ya, Mbah… Namun, bibir saya dirasa tak pantas mengucapkan nasihat kepadanya. Saya keterlaluan? Bukan. Saya hanya takut kalimat itu diartikan bahwa lawan bicara sedang tidak sehat.

“Sesok Simbah taktilik kowe. Ning Jakarta…,” kata Simbah.

Simbah masih menangis perlahan-lahan. Memeluk saya sekali lagi.

Saya menahan tangis agar tidak meledak.

Simbah bukannya enggan ke Jakarta. Tapi saya-nya saja yang tidak pintar memilih waktu di akhir pekan untuk balik pulang ke Jogja.

Simbah tak pernah janji ingin menengok meskipun tekadnya sangat kuat menengok cucu pertamanya ngerasain idup di ibukota. Saya juga tidak tahu apa yang disampaikan ibu saya (sepulang mengantarkan saya ke Jakarta) kepada Simbah tentang kerjaan saya, tempat saya tinggal, dan suasana-suasana lain tentang saya.

Setelah tuntas membaca pesan dari adik saya pada pagi itu, saya tetap masuk kantor: presensi kehadiran, pamit sejenak dengan beberapa staf, dan membawa beberapa piranti kerja yang bisa disekaliankan selama tidak di kantor. Siangnya, bergegas ke stasiun kereta: melakukan perjalanan ke Jogja dengan perasaan yang tidak bahagia, sesekalinya membayangkan memori tentang nenek, dari saya kecil sampai waktu saya berpamitan hendak ke Jakarta, sesekalinya membayangkan bagaimana tubuhnya yang dibalut kafan masuk ke liang kubur. Tangisan pun pecah…

*

Kamis tengah malam, saya sampai Jogja. Adi, kawan baik saya di Jogja, menjemput saya di Stasiun Tugu. Tidak banyak yang saya ceritakan kepada sanak famili ketika saya sampai di rumah Simbah.

Kamis pagi, saya dan beberapa anggota keluarga dari Mojokerto yang sama-sama baru sampai pada Kamis dini hari melakukan ziarah kubur. Dari luar pemakaman, saya telah mengetahui letak gundukan dan penanda kuburnya. Pasti di dekat kakek.

Kami pun berdoa, mengelilingi kuburnya. Seorang kerabat dari Mojokerto memimpin doa. Senggukan terdengar dari beberapa dari peziarah itu. Saya juga, saya tersengguk.

Share: