Banyak hal menyakitkan yang telah tergores melukai kenangan hal mengagumkan. Namun, hal menyakitkan itu tidaklah ampuh disembuhkan dengan hal menyakitkan juga, maksudku: membalas. Tidak semua persoalan hanya sanggup diselesaikan dengan membalas, apalagi menyalahkan, mengadu, dan memfitnah. Penerimaan yang tulus adalah obatnya, obat agar kau menjadi orang yang sabar, pun begitu denganku. Tak perlu menyesal, karena yang lebih pantas adalah memulai untuk mengatakan, “Qadarullahu wa masya’a fa’al,” kemudian, “Alhamdulillah ala kulli hal.”

Sungguh, tak selamanya rasa sakit itu tak mengenakkan. Beruntunglah, di saat kita sakit, masih ada orangtua, teman, dan tetangga yang mau ikut merasakan, pun begitu dengan hati. Dan kurang beruntunglah, di saat kita tidak sakit, justru tak ada yang mau ikut merasakan, pun begitu dengan hati. Kadang kita sibuk merasa terbelenggu oleh rasa sakit itu, ilusi yang dibuat-buat, mereka-reka.

Tuhan punya skenario terbaik, bersabarlah ketika itu belum terjadi. Berjanjilah, apapun yang terjadi di masa depan, kau takkan pernah menyakiti siapapun, yang dekat atau yang jauh. Yakinlah, Tuhan tidak jahat ketika kita tak tahu apa yang akan terjadi, dirahasiakan. Mungkin, dengan rahasia itu, Tuhan sengaja melindungi kita dari tahu itu sendiri.

Entah kejadian baik ataupun buruk, semua itu datang sesuai takdir Tuhan. Sama seperti hal menyakitkan, kejadian buruk memiliki obat yang tak berbeda. Penerimaan yang tulus, tak perlu menyesal. Dan ada satu hal yang sanggup mencegahnya. Yaitu dengan berbagi. Berbagi apa saja dengan orang lain, yang bermanfaat, bagi masa tersebut dan masa datang.

“Keep your smile!”
~ @sevmananda

Share: