kereta api engkau

Kereta api barusan melewati lorong. Gelap adanya. Dinding lorong seolah bercerita bahwa ia selalu dalam keadaan tua. Tapi terawat. Tidak ada coretan ulah vandalisme.

Kini tiba saatnya, setelah pelancong sekaligus pekerja negeri seberang menyelesaikan tugasnya, jalan pulang adalah pilihan paling utama. Aku termasuk satu dari banyak orang.

Barang bawaan kami tidak sedikit. Padahal kami hanya pulang membawa barang bawaan yang kalau dikira-kira nyaris sama seperti barang bawaan saat bepergian. Jangan tanya soal kenang-kenangan berupa barang berharga atau makanan khas. Aku butuh wawasan di negeri seberang itu. Walau setidaknya tetap ada sedikit kecewa. Aku tidak bisa menemui engkau.

Tapi aku percaya satu hal. Dua daun yang terbang berasal dari satu pohon lalu berpisah, ia akan bertemu kembali. Kepada angin dua daun itu berharap. Satu daun ke utara, satu daunnya lagi ke selatan. Angin yang berlawanan arah akan mengembalikan mereka. Dan bersua kembali.

***

Perjalanan pendek menyisakan waktu yang berharap agar lekas dihentikan. Sebentar lagi sampai, aku harus segera menyiapkan barang bawaanku untuk kembali ke negeri asal. Ujung lorong telah dicapai. Kereta telah keluar dari gelap menuju stasiun terdekat.

Pengumuman di dalam kereta menandakan bahwa kereta akan sampai dalam waktu satu menit lagi. Para penumpang harap menyiapkan barang bawaannya. Kereta tidak akan berhenti lama di stasiun itu. Kami diminta untuk bergegas.

Lonceng terdengar sayup dari dalam kereta. Klakson kereta lebih nyaring. Peron ramai. Beberapa penumpang yang kemarin telah menjadwalkan pulang lebih dulu sekarang mereka menyambut kami.

Di dalam kereta, terlalu banyak penumpang berjejalan. Keringat mulai berpeluh. Satu per satu memenuhi bagian dagu. Nyaris pening. Aku harus kuat. Sebentar lagi, sebentar lagi. Aku pasti keluar dari kereta ini. Dan aku akan menemuimu yang telah kembali dari seberangnya negeri seberang.

Akhirnya aku berhasil di detik-detik terakhir sebelum kereta itu berangkat kembali. Begitu juga penumpang lain, mereka telah berhasil melalui satu menit berharga. Lalu kini, aku harus dihadapkan pada rasa bingung mencarimu. Aku pikir engkau ‘kan menunggu.

Tapi di manakah engkau? Semua penumpang sumringah menemukan kembali sanak familinya atau kolega hariannya.

Kereta api mulai berangkat perlahan. Perjalanan berbalik arah. Dalam hitungan detik, aku melihat engkau. Engkau berada di kereta itu. Engkau duduk di kursi yang tadi aku duduki. Kereta api melaju kencang. Apakah engkau bermaksud untuk menjemputku di negeri seberang? Padahal, aku telah berpulang di saat engkau bepergian?

Kereta api itu kini berpacu menuju lorong. Membawamu. Dalam gelap. Walau sejenak.


 

11.08 PM, 2807.2015

Share: