KERUMUNAN YANG LUPA

Kita hidup di antara banyak orang yang juga sama-sama hidup. Tetapi, kita berkerumunan seolah-olah melupakan dan kemudian melalaikan arti hidup. Kerumunan yang lupa. Sebutlah tak ada tanda untuk menyebutnya menjadi kerumunan yang ingat. Kalaupun ingat, pasti hanyalah sejenak. Kembali menjadi lupa. Maklum. Kerumunan yang lupa.

Sanubari hati terbuang dan hanya diambil kembali setelah paham. Tetapi, pahamnya juga hanya sejenak. Kembali menjadi lupa. Maklum. Jangan mengerutkan dahi. Kita hidup sebagai manusia yang sering beralasan, “Maklum, saya manusia, kamu pun manusia. Manusia sering lupa.”

Kita hidup di antara banyak orang yang hidup dan sama-sama bisa lupa. Rekam memori yang rusak menjadikannya saling lupa. Kalaupun rekam memori tidaklah rusak, kerumunan akan berpura-pura lupa. Seolah-olah tak ingat. Maklum. Kerumunan yang lupa.

Sangkar solidaritas yang sering disuarakan sbukan untuk semua, melainkan untuk kerumunan-kerumunan tertentu yang pecah belah menyendiri tak bersatu. Solid? Never beaten? Low profile? Benar-benar kerumunan yang lupa.

Kita hidup di antara para pengkerumun yang sering tertawa-tawa. Banyak yang tidak memaknai perbedaan. Banyak yang lupa arti hidup. Saya berjuang untuk tidak berada di satu sisi saja. Sama-sama bersama memaknai hidup dengan menjadi orang-orang yang saling jaga. Pun juga saling senyum dan sapa. Cheers!

 

Sabtu | 1005.2014 | 19:32

Share: