sendok gula blur

Kita mulai dengan masa-masa yang sama-sama kita alami. Sehari-hari sudah berapa gelas kita habiskan air minum? Air minum yang dituangkan dan sudah didihkan (entah kemudian tetap dalam keadaan panas atau mendingin atau diberi es) telah tercampur beberapa gram gula setiap harinya. Cukup aduk bersama dengan satu sendok gula pasir, biar manis. Setelah dicecap, perlu tambahan beberapa sendok lagi. Bila masih belum mencapai kadar manis yang subjektif, ditambahkanlah terus-menerus hingga rasa murni suatu kadar asli itu menghilang.

Kopi. Pahit. Kopi pahit. Kopi pahit tidak lagi menjadi ciri kopi (asal rasanya adalah pahit) bila tebu sudah mengalahkan kepahitan. Tebu yang menang, kopi yang kalah. Manis mengalahkan kepahitan.

Teh. Murni. Teh tanpa tambahan olahan tebu jelas berbeda dengan yang dicampuradukkan dengan olahan tebu. Manis sekali. Kalau ingin nikmat di siang hari silakan tambahkan beberapa bongkah es batu. Tetapi, lagi-lagi, teh yang kalah. Tebu menang. Teh yang tanpa gula adalah teh pahit, padahal murni. Pahit dikalahkan manis.

Sekarang, apalagi? Minuman apalagi yang sejatinya bisa dinikmati tanpa gula? Tidak terlalu banyak memang. Tetapi, kita mestinya sadar. Kita sudah terlalu banyak minum dengan gula. Kita lupa bahwa kopi itu pahit, teh itu pahit, dan air putih itu memang hambar. Kita selalu percaya bahwa gula itu manis lagi memaniskan. Kini, kita tak mau mencicip teh tanpa gula dua sendok. Seolah-olah yang dirasakan adalah gulanya, bukan tehnya.

Kita akan sadar ketika kita merenungi apa yang kita alami. Sehari-hari dan tidak hanya sekali, kita habiskan tiap gelas kita dengan adukan beberapa gula pasir. Tidak akan pernah berhenti, karena sudah menjadi kewajaran (atau juga kewajiban?). Peringatan hanyalah belaka. Kemanisan tetaplah kegemaran.

_________

2904.2015
Di siang hari, di Rumah Psikomedia, Gedung F, Fakultas Psikologi, UGM

Share: