Kelak di suatu tempat, terdapat genangan air yang elok nan menawan. Setiap orang yang melewatinya akan terpukau lantas memujinya. Terdapat dua ekor ikan koi berkejar-kejaran. Sssstttt… Tidak baik mengganggu kemesraan dua makhluk tersebut.

Di kolam ikan itu, dimana banyak bongkahan seni tertempel ikut menghiasi kolam, menjadikan suasana layaknya berpadu kasih dengan keharmonian. Duduk dalam kesunyian pagi di hamparan rumput sebelah kolam ‘kan membuatmu selalu tersenyum, mengingat-ingat kebaikan, pun akan berjiwa memaafkan.

Sayang, kini di suatu tempat, tempat yang jernih pun tidak, apalagi bewarna indah. Lumpur. Setiap orang hanya menatap busuk seolah-olah merasa tempat itu benar-benar tak dibutuhkan. Dua ekor lele men-cipak­-kan beberapa genangan yang lain. Kejar mengejar. Sayang lagi, kau mungkin merasa boleh untuk mengganggu kemesraan dua mahkuk tersebut.

Di lumpur itu, dimana tak ada bongkahan seni sedikitpun, kita bisa saja menilai suatu keburukan. Kita jarang menilainya bahwa sebelum lumpur itu ada, di situ berdiri kolam yang elok nan menawan. Pemiliknya pergi entah kemana.

Kalian tahu kenapa ia bisa pergi meninggalkannya?

Sungguh tega nian, konon si pemilik kolam memelihara empat ekor ikan. Dua koi, dua lele. Sungguh kasihan, dua ekor lele itu tersekat sempit di pojok bawah kolam. Tak terlihat aktivitasnya. Sementara koi, ia bebas berenang ke sana-ke mari, memamerkan sisik-sisiknya bewarna-warni.

Maka, suatu saat, dua ekor lele berencana untuk memberontak. Mereka hendak membunuh kedua koi tersebut. Hanya soal iri. Hanya soal tak diperlakukan adil pula.

Ketika si pemilik kolam memastikan dua ekor koi mati dan melihat dua ekor lele keluar dari sekatnya, ia memutuskan untuk pergi. Tak lupa ia menghancurkan kolamnya yang indah selama ini. Sehancur-hancurnya. Dan, kini hanya menjadi pemandangan sepintas bagi siapa saja yang melewatinya. Seolah-olah lebih baik ia ingin tak pernah mengenalnya kembali.

Kau tahu suatu peribahasa. Nasi telah menjadi bubur. Hah, bisa jadi itu sama dengan peribahasa baru ini: Kolam sudah menjadi lumpur.

Kau pasti sanggup menyimpulkan suatu makna dan pesan dari cerita ini. Tentu. Dan, bukan hanya tentang ketidakadilan.

Share: