koloni & ospek kampusmu BW

Pagi tidak datang dengan sayup-sayup, apalagi beberapa mahasiswa baru itu, mereka tidak datang ke kampus barunya dengan sayup-sayup. Sudah setengah lebih, kalender Masehi telah terlewat. Itu pertanda bahwa musim ospek telah tiba!

Panitia bergegas menyiapkan sarana dan prasarananya. Semester ganjil yang berbeda keganjilannya daripada studi sebelumnya. Siswa SMA atau SMK melepas bawahannya, mereka tidak lagi putih abu-abu. Kini, resmi sudah mereka menyandang identitas sebagai maha-siswa.

Begitu banyak orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek) di seluruh penjuru Indonesia dan itu artinya di setiap tahunnya ada begitu banyak cara menyajikan ospek. Dalam membahas ospek, mari kita taruh keresahan kita. Mahasiswa diseleksi hanya untuk dimaki. Kalaupun makian itu diminimalisasikan, paling-paling diganti dengan bentakan lengkap dengan tanda serunya.

“Lari, dik!”, “Cepet, dik!”, “Lebih cepet lagi larinya, dik!”

Seperti itu. Komisi Disiplin yang patut kita apresiasi kedisplinannya. Saking disiplinnya, bolehlah kita panggil komisi itu dengan sebutan tentara! (Tak peduli  perwira, bintara, atau tamtama; tetap tentara, itu lirik karangan Iwan Fals). Komisi itu alih-alih fungsinya bisa lebih greget timbang komisi-komisi lainnya. Wow, komisi itu diisi oleh para mahasiswa tingkat atas, membekali dirinya untuk mendisiplinkan mahasiswa baru. Pembekalannya dipupuk dengan acting. Maka, jangan segan menyebutnya nama lainnya: aktor atau aktris. Itulah keahliannya, ahli ber-acting seolah-olah menjadi kawanan penjajah. Mereka tentu akan membela perilaku (yang bengis) itu dengan dalih: “Kami tidak marah, dek! Kami hanya tegas pada kalian!”

Siapa berani jamin kalau universitasmu terbebas dari tindak-tanduk seperti itu? Obralnya adalah kedisiplinan. Tapi, sayang sekali sobat, rasa marah telah menjadi pembungkusnya. Komisi? Mitra? Apalagi jal??? Aktor! Atau, kita sedang disuruh untuk bercermin. Tidak jauh beda dengan masa-masa kolonialisme. Atau, menyoroti Orde Baru yang telah berlalu.

Gerilyawan mati, dan tak tau dimana kuburnya. 70 tahun Indonesia merdeka, 66 tahun diakui koloni Belanda, tapi ospek kampusmu masih banyak aktor dan aktris yang berpura-pura.

Mahasiswa baru diserupakan romusha. Mahasiswa lama boleh acting ibarat menimbrung Nippon.

Tiket masuk kampus bukan cuma SNMPTN, SBMPTN, UM, SIMAK, SM atau seleksi apalah itu. Tiket masuk itu berupa bentakan. Soekarno telah lama menulis tentang nasionalisme, islamisme, dan marxisme. Saya sejenak saja menulis tentang koloni dan ospek kampusmu. Merdeka atau ngganyik?

Koloni dalam bungkus yang baru, yang banyak dibela dan dipuja bahwa merekalah pahlawan dalam lingkup kampus. Woy, koloni bertajuk komisi itu menegakkan disiplin. Walau tidak perlu seragam oranye bertuliskan ‘Penegak Disiplin’, mereka telah lama dijadikan komisi. Adapun sebutan koloni pantas-pantas saja to (?), walau mereka memang tidak mengokang senjata.

Bayangkan koloni itu, jika mereka memang tidak membentak, begitu susahnya mengajak bercanda dengan mereka. Kalaupun wajah mereka secara natural memang jutek dan membebalkan, mereka akan tertawa di balik hadapan orang-orang yang dibentak.

***

Lalu, kalau koloni itu masih berpijak di tanah kampusmu, apa solusinya? Kalau penjajah itu masih ongkang-ongkang di negerimu, mau bagaimana apalagi?

Gampang!

Suarakan suaramu, merdekakan tanahmu. Mari, saya ajak untuk jangan menjadi orang bodoh. Bersama-sama, mari kita tolak komisi disiplin itu. Jangan sampai mereka berteriak sok, jangan terulang lagi mahasiswa baru diakalbulusi oleh sandiwara itu.

Namun  ingat, jangan benci mereka. Karena siapa tahu, mereka adalah teman kita, bahkan boleh jadi saudara kita. Pahlawan terdahulu tetap belajar Bahasa Belanda, juga Bahasa Jepang. Bencilah terhadap bentakan mereka, bencilah ke-kolonialisme-nya. Tidak perlu membenci person-nya, karena saya sadar betul kalau mereka bisa mengubah sistem buruk itu.


Selesai digarap tanggal 5 Septeber 2015.

Share: