5 payung koran

Jika hujan tak jadi datang, kemarau ini akan berkepanjangan. Daun-daun di pelataran sebelah berserakan dan beterbangan ke pelataran sebelahnya lagi. Ayam-ayam berjalan hati-hati, daunnya berduri. Tak sudilah ayam itu untuk berkokok pagi-pagi.

Angin yang berhembus di pagi hari tidak membuat nyaman. Dingin hawanya hanya sebentar. Belum genap pukul enam sudah terang benderang. Para penyepeda mingguan sudah tampil lengkap dengan kostum dan helmnya. Aku masih menunggu koran langganan.

Jalanan depan rumah lengang. Akhir pekan, bukan menjadi ajang keluar rumah. Para penduduk lebih tenang diam di rumah, menonton siaran televisi. Setidaknya mereka akan cepat mengganti saluran yang menyiarkan berita. Sementara itu, aku masih menunggu koran langganan.

“Jamu, jamu…,” pedagang jamu memamerkan dagangannya sembari berjalan tak kuat membawa gendongan jamunya. “Jamu, jamu,” diulangi.

“Kring, kring.”

Itu pasti loper koran.

Tetapi bukan. Itu para penyepeda yang lengkap dengan helm dan kostumnya yang membasah. Mereka mungkin saja kepanasan.

Siang nyaris menghampiri. Koran pagi yang aku tunggu-tunggu kedatangannya tak kunjung terlempar dari luar ke teras rumah ini. Aku beranjak masuk ke dalam rumah. Aku masih menunggu koran langganan.

Aku pun tertidur. Memimpikan engkau. Engkau yang datang dari arah utara, menaiki mobil limited edition. Lalu datang membangunkanku.

Tersentak aku bangun. Aku cek teras depan.

Hujan datang beserta awannya yang mendung. Hujan yang jadi datang telah membuat kemarau tak berkepanjangan.

Koran itu tiba-tiba datang. Tergeletak di atas teras. Koran itu basah.

Berita utama di halaman pertama berjudul ‘Kemarau Tak Berkesudahan, Penduduk Mulai Lelah’.

Konyol. Pasti banyak yang mengkritik berita itu. Dan besok ini berita itu akan diralat. Lebih baik, aku tidur. Berharap semoga engkau datang membawa berita bahagia di akhir pekan.

______

0706.2015

Share: