kucing dan o anjing

Kucing belang dengan ekornya yang pendek sedang mengais sampah-sampah. Beberapa ayam milik tetangga datang ikut mengais sampah. Kucing belang itu mempertahankan daerah kekuasaan sementaranya. Sementara aku menyaksikan mereka setiba dari perjalanan panjang yang melelahkan, lagi menyedihkan.

Bosan mengeluarkan sampah-sampah plastik, kucing belang itu istirahat sejenak, sekitar delapan sampai dua belas detik, lalu mengais lagi. Hingga pada akhirnya menemukan beberapa tulang-tulang kecil, aku tebak itu adalah tulang ayam goreng. Satu tulang yang tidak begitu panjang dibawanya keluar dari tempat sampah dengan mulutnya. Cukup kesulitan. Sementara aku masih saja menyaksikannya.

Bodohnya, tulang ayam yang telah berhasil dibawanya itu justru dibiarkan begitu saja. Kucing itu kembali masuk tempat sampah. Mungkin saja mencari yang lain, atau mencari tulang ayam lebih. Yang jelas, aku menyaksikannya lebih seksama. Tanpa sadar, aku melangkahkan kaki sekitar dua meter ke depan.

Seperti mulanya tadi, kucing belang itu membawa satu tulang ayam goreng dengan mulutnya, membawanya ke luar tempat sampah, meletakkannya, lalu masuk lagi ke dalam tempat sampah, hingga kemudian bosan, menunggu sejenak, dan akhirnya ia puas sudah mendapatkan tujuh tulang ayam goreng. Di dekat tempat sampah, kucing belang menata-nata tulang. Entah agar terlihat rapi atau memilah mana yang ingin dilahap terlebih dahulu, sepertinya itu bukan budaya hewan jinak. Kalau toh lapar, satu tulang saja seharusnya langsung dilahap saja tanpa mengais lebih banyak, apalagi harus menata-nata seperti itu. Aku sadar betul kalau sudah bosan menyaksikan kucing belang yang bodoh itu.

Tapi, seketika, anjing liar berwarna hitam berlari ke arah tempat sampah. Kucing belang itu diterkam lalu tergeletak lemah tak berdaya. Si anjing liar itu mengais semua tulang yang dijejerkan si kucing belang. Si anjing liar pergi kemudian, puas atas apa yang telah direbut secara paksa. Pilunya, kucing itu tidak melawan atau mencari tulang lagi. Aku melihat engkau datang berlari, menjemput kucing belang, mengelusnya lembut, dan berteriak ke arah larinya anjing, “O, Anjing!”

Engkau bergegas lari ke arah larinya anjing sambil menggendong kucing belang itu. Aku tidak sempat menyapamu, hanya saja aku sekadar menggerutu entah kepada siapa yang aku gerutui.

“O, Anjing!” begitulah kataku, mencoba menirukan engkau. Dan, aku pun masuk ke dalam rumah untuk mengais makanan yang tersisa di meja makan.


Sabtu, pagi hari.
0310|2015

Share: