Apakah Indonesia sedang mengalami krisis film anak? Mungkin iya.
Apakah film anak benar-benar cocok ditonton semua umur? Mungkin tidak.

Waktu kecil, Petualangan Sherina menjadi film pertama yang saya tonton di bioskop. Di Jogja, kala itu, bioskop Mataram masih beroperasi. Seingat saya, adik pertama saya juga menonton bersama saya. Jujur, sampai saat ini, saya suka film itu. Lincah, liris, dan memorable adalah kata-kata yang bisa mewakili Sherina.

Waktu remaja, Laskar Pelangi menjadi film pertama yang saya tonton di bioskop selama saya duduk di sekolah menengah pertama. Saya menontonnya di bioskop suatu mal. Bioskop Mataram sudah tidak beroperasi, ia tergerus karena monopoli bioskop di tanah air. Sampai saat ini, saya memfavoritkan Laskar Pelangi sebagai film semua umur yang penuh inspirasi.

Sekarang, saya sudah tidak lagi remaja. Saya tetap memiliki gejolak menonton film-film anak. Kulari Ke Pantai jatuh menjadi pilihan saya. Saya mengikuti beritanya, mulai praproduksi sampai film tersebut ditayangkan.

Petualangan Sherina dan Laskar Pelangi adalah dua film besutan Riri Riza dan produksi Mira Lesmana. Keduanya menjadi favorit saya sejak saya selesai menonton, sampai sekarang. Namun, Kulari Ke Pantai, yang juga dikreasikan Riri Riza dan Mira Lesmana, belum masuk menjadi daftar yang difavoritkan.

Kulari yang Tidak Berlari

Sam (Maisha Kanna) berlari, tapi tidak ke pantai. Dia berlari selepas pulang sekolah, ke rumah. Dia ingin meyakinkan penonton bahwa dia adalah anak pantai. Berlatih selancar adalah kegiatannya yang mengasyikkan. Entah karena jauh atau bakal menerbitkan capek, Sam naik sepeda ke pantai, sambil membawa papan selancarnya. Ya, ya, ya… Sam tidak berlari. Tapi…, dia pandai berselancar.

Sam melawat ke Jakarta bersama ibu dan ayahnya guna merayakan ulang tahun grandma­-nya. Setelah itu, Sam pergi naik mobil ke G-Land. Di sana, ia kepincut ingin bertemu peselancar idolanya. Karena ayah ada urusan, rencananya, Sam dan ibunya, Uci (Marsha Timothy) akan naik mobil dari Jakarta ke Banyuwangi. Mereka ketambahan penumpang: sepupu Sam: Happy (Li’li Latisha).

Ada beberapa tempat rehat yang di-jujug mereka. Salah satunya, pantai Watukarung, Pacitan. Apakah ada adegan yang menayangkan aktivitas berlari? Tidak ada.

Di akhir film, aktivitas berlari akhirnya ada. Sam diberi kejutan berupa pertemuan dengan Kailani Johnson. Saat itulah, langsung saja, Sam berlari ke pantai…

Saya mengidap rasa ragu: apakah judul Kulari ke Pantai disuguhkan agar berkait dengan Ada Apa dengan Cinta? yang punya puisi “Kulari ke pantai kemudian teriakku sepi”?

Kejujuran Ditanamkan, Kesetiaan Dilupakan

Ada dua adegan berbohong yang paling saya ingat. Pertama, waktu mampir makan siang di Cirebon, Sam yang bisa kenapa-napa kalau minum gula justru meminum es teh manis pesanan Happy dan mengguyurkan beberapa mililiternya ke meja ketika ibunya dan Happy mencuci tangannya. Saat ditanya mengenai kosongnya gelas berisi es teh manis, Sam berbohong. Sam bilang bahwa gelasnya kesenggol dan tumpah.

Kebohongan itu ditanggulangi dengan penanaman kejujuran—secara implisit. Selesai makan, mereka melanjutkan perjalanan. Sam berlagak aneh. Keanehannya disebabkan minum yang manis-manis. Tanpa sadar dan sambil masih berlagak aneh, Sam bilang kalau tadi ia minum es tehnya Happy. Alhasil, film ini tidak jadi mengajarkan kebohongan. Justru kejujuran. Secara implisit dan lagak aneh.

Kedua, pertengkaran antara Sam dan Happy sewaktu singgah di Bromo. Gara-garanya, Happy, malam itu, sedang video call-an dengan Mia, kawannya di Jakarta. Sam yang gerah atas berisiknya Happy lantas mencibir kalau lebih baik Happy jujur dengan kawannya bahwa Happy nggak suka berkawan dan rada sungkan ikut konser dengan genk-nya. Cibiran Sam terdengar oleh Mia yang ternyata tidak menutup video call-nya. Happy pun kalut. Esoknya, saat Sam dan ibunya menikmati alam Bromo, Happy yang tidak ikut justru kabur. Happy balik Jakarta dengan menyusup di mobil ciwi-ciwi kekinian. Karena ketahuan menyusup, Happy pun kembali lagi bersama rombongan Sam dan ibunya.

Ibu Uci sangat kesal dengan jawaban bohong Happy di mobil. Katanya, dia bosan liburan. Padahal, sejatinya, dia tengah bertengkar dengan Sam. Kebohongan ini dibongkar di bagian akhir film. Sam menyerahkan surat yang ditulis Happy sewaktu masih di Bromo dan diletakkan di kamar sewa mereka. Akhirnya, kejujuran pun berhasil ditanamkan dari dua tokoh utama kita.

Masalahnya, bagaimana dengan kawan Happy di Jakarta? Apakah Happy putus relasi perkawanan dengan Mia? Sampai film selesai, tidak ada solusi yang menanggulangi hubungan Happy dan Mia. Apakah mereka lupa pada kesetiakawanan? Atau, sejak awal, Happy berkawan dengan Mia hanya buat gaya-gayaan?

Overall, Layak Tonton bagi Orangtua dan Anak

Kulari ke Pantai memang tidak sekuat Petualangan Sherina dan Laskar Pelangi. Tokoh laki-laki hanyalah pelengkap belaka. Trio dominan yang berjenis kelamin perempuan tetap mampu mengenalkan eksotisme Indonesia: beberapa di Jawa dan satu di Rote.

Saya percaya, banyak orangtua yang mengajak anaknya menonton Kulari ke Pantai dan banyak pula yang bahagia setelah mempertontonkan film berpesan moral.

Share: