Kultum ilmu

Bersyukur karena Allah masih memberi kita kesehatan untuk melaksanakan puasa dan memberi kita  waktu untuk melaksanakan amal-amal yang baik, dan salah satunya adalah dengan menegakkan sholat Subuh berjama’ah dan mengikuti kultum ba’da Subuh yang di dalamnya –Insya Allah- terdapat berbagai ilmu khususnya tentang Islam.

Apa arti ilmu? Secara harfiah ilmu berarti mengetahui. Ilmu juga berarti pengetahuan, baik berkaitan tentang agama maupun tentang dunia.

Mempelajari ilmu agama hukumnya wajib, yakni apabila ditinggalkan maka berdosa. Mempertimbangkan sedemikian besarnya urgensitas ilmu, Imam Syafi’I mengatakan,

“Mencari ilmu lebih utama daripada shalat sunnah.”

Ilmu lebih utama, maknanya adalah sesuatu yang wajib, yakni apabila dilakukan akan mendapatkan pahala, dan apabila ditinggalkan atau tidak dilakukan akan mendapatkan dosa. Berbeda dengan keutamaan sholat sunnah yang maknanya adalah sesuatu yang tidak wajib, tetapi sunnah, yakni apabila dilakukan akan mendapatkan pahala, dan apabila tidak dilakukan maka tidaklah mengapa (tidak berdosa dan tidak pula berpahala).

Imam Syafi’I juga mengatakan,

“Tak ada yang lebih utama setelah faroidh (kewajiban syari’at yang diwajibkan)daripada ilmu.”

Kewajiban-kewajiban syari’at yang diwajibkan adalah semisal menegakkan sholat, membayar zakat, dan menunaikan puasa. Dan setelah hal faroidh tersebut terdapat sesuatu yang lebih utama, yakni ilmu.

Terdapat suatu kisah di tanah Arab di mana terdapat seorang sedang mengajar tentang ilmu agama kepada murid-muridnya. Waktu itu adalah bulan Ramadhan, dan semua murid yang datang pada waktu itu sedang dalam keadaan berpuasa. Tiba-tiba si guru ini minum di sela-sela waktu mengajarnya. Semua murid tentu penasaran. Dan salah satu murid bertanya kepada guru tersebut, “Wahai guru, mengapa engkau tidak berpuasa?” Maka sang guru pun menjawab, “Aku tidak berpuasa karena aku belum baligh.” Dan guru itu bernama Muhammad bin Idris, dan dialah Imam Syafi’i.

Dalam suatu hadist berbunyi,

“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu,

Allah memudahkan jalan baginya menuju surga.”

[HR. Muslim 17/310]

Ilmu agama menghantarkan kejiwaan seseorang untuk dewasa, membangun spiritual, etika dan ideology, ilmu pengetahuan kealaman (sains), membangun peradaban manusia yang tangguh dan maju di dunia. Dan Islam tentu tidak mengenal pemisahan (dikotomi) antara pengetahuan agama dan kealaman (sains), sebab sains adalah sarana untuk merealisasikan agama itu sendiri. Contoh kasus adalah tentang dilarangnya meniup minuman dan makanan. Reaksi antara air (H2O) dengan tiupan yang berasal dari mulut berupa karbondioksida (CO2) akan menghasilkan larutan yang berbahaya, yakni asam bikarbonat (H2CO3)dapat digambarkan :

H2(l) + CO(g) –> H2CO(aq)

Malulah seseorang apabila ia tidak mau belajar ilmu agama. Dan malulah pula apabila ia hanya belajar ilmu agama setengah-tengah, yaitu karena ia hanya ikut-ikutan, atau hanya karena ingin disanjung, atau bahkan tidak ikhlas dalam menuntut ilmu tersebut.

Suatu amalan harus didahului dengan ilmu, maka ilmu sendiri harus lebih dahulu daripada amal. Mu’adz bin Jabal berkata,

“Ilmu adalah pemimpin amalan. Dan amal itu ada di belakangnya.”

Apabila seseorang itu beramal tanpa ilmu maka ia akan seperti apa yang dikatakan oleh Umar bin Abdul Aziz –rahimahullah-,

“Man ‘abadallaha bi ghori ‘ilmin maa yufsiduhu aktsar mimma yuslih.”

“Siapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka kerusakan yang ditimbulkan lebih banyak dari kebaikan yang muncul.”

Kalau misalkan ada seorang anak datang bertanya kepada bapaknya, “Pak, tadi waktu sholat masih ada ‘selilit’ (secuil makanan yang tersangkut di gigi), terus tadiselilit­-nya itu tertelan waktu sholat, kira-kira sholatku batal ndak, pak?”

Pertanyaan semacam ini tentu banyak membuat bingung bagi para orang tua atau orang muda sekalipun. Di sini tentu kami tidak menginginkan lagi apabila permasalahan tentang ‘selilit’ itu tidak dapat dijawab lagi bagi para orang tua, begitu pula kami tidak menginginkan ada jawaban “Tanya erguru agamamu aja, nak!”, “Nggak apa-apa, dek, kan nggak bikin kamu kenyang!”, ataupun jawaban “Aduh, nak, kamu cari di internet saja ya, ayah lagi sibuk.”. Dan kami hanya menginformasikan bahwa menelan ‘selilit’ tersebut menjadikan sholatnya tidak sah.

Di sini pulalah letak pentingnya berilmu sebelum beramal. Jangan sampai para orang tua justru  mendahulukan amal sedangkan ilmunya berada setelah amal tersebut.

Maka dari itu semoga kita dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk senantiasa belajar dan menuntut ilmu agama. Aamiin…

Berikut tadi adalah tulisan pribadi yang sebelumnya pernah dijadikan kultum ba’da Subuh tanggal 23 Juli 2012 di musholla As Salam dekat rumah.

Sumber referensi :

  1. Buku GORESAN KATA: MOTIVASI ISLAMI, karya Abu Izza.
  2. Audio Kajian ‘JURUS JITU MENDIDIK ANAK’ oleh Ustadz Abdullah Zaen.
  3. http://answers.yahoo.com/question/index?qid=20081019204100AAtOaPQ
  4. Catatan kajian pribadi.

_________

Ananda Sevma

Sebelumnya diketik pada hari Sabtu malam tanggal 28 Juli 2012, pukul 8:51 PM. Disempurnakan pada keesokan harinya waktu sore beberapa menit sebelum berbuka puasa.

Share: