Ini bukan buku religi meski saya temu di rak novel religi sepantar Asma Nadia & Habibburahman El Shirazy. Masuk dalam nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa Award 2016, membuat saya terlampaui ingin membaca dan akhirnya saya perlu menulis sedikit ulasan (atau komentar(?). Hampir sebagian cerpen di kumcer ini tidak seperti cerpen-cerpen lain yang kental naratif. Eko Triono, si penulis, sepertinya sengaja bermain-main–dalam hal ini, aku berani bilang: ber-eksperimentatif!

Cerpen ‘Ikan Kaleng’ yang pernah terbit di Harian Kompas adalah terfavorit. Selain itu ada ‘Pernikahan Tuan Mensen yang Mengejutkan’ yang benar-benar mengejutkan: mana mungkin seorang Tuan menikahi lukisannya sendiri? Ada ‘Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-pohon’ (sama seperti judul buku) yang acap menyindir kita-kita manusia ini. Favorit terakhir saya justru cerpen pertama (hlm.29-30), judulnya ‘Kebahagiaan’, yang merangsang saya untuk memikirkan tentang anak-dari-masa-depan.

Share: