atau

APA ADA PANGGILAN KESEDIHAN?

atau

TENTANG MAS ENDI

I.

Laki-laki itu termangu.

II.

Laki-laki itu berdiri di teras suatu vila di Kaliurang yang dingin dan ia mendengarkan alunan ‘Benci untuk Mencinta’-nya Naif yang aku dan beberapa adik angkatan mainkan. Laki-laki itu meralat bahwa ada kunci G minor─aku terlupa lagu-lagu Naif kerap ada kord begituan.

III.

Laki-laki itu berjalan dan aku sejajari ia setelah ibadah pagi berjamak-jamak di masjid. Laki-laki itu aku tanyai, apakah seangkatan dengan seorang dosen perempuan yang pandai menyembunyikan kesedihan. Jawabnya, iya. Aku tanyai lagi, apakah seangkatan dengan seorang dosen laki-laki yang sulit dibandingkan kemahiran bergitar dengannya. Jawabnya, ia lebih senior.

IV.

Laki-laki itu duduk sendiri di atas sofa tua dan reyot. Ia tidak ikut kami bermain Werewolf di ruang muka. Ia tidak ikut mereka yang menggelontorkan canda di teras. Laki-laki itu menyelempangkan sarungnya. Seketika, laki-laki itu lenyap, entah ke mana.

V.

Di Instagram, laki-laki itu menawarkan pesona ciptaan-Nya di linimasa yang mudah kaujangkau. Di Facebook, laki-laki itu menautkan pesona serupa. Di mana lagi ia menerbitkan gembira bagi sesiapa?

VI.

Laki-laki itu ingin kuberikan buku Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-pohon?, namun telah terlambat.

VII.

Laki-laki itu—sering kuamati sejak semester 1 sampai aku pergi dari Jogja—duduk di muka bilik suatu komunitas seni di kampus kami. Sering kali rokok menyala dan gitar mengalun. Kadang-kadang, ia mengiringi suara perempuan; kadang-kadang laki-laki; kadang-kadang nihil suara manusia; kadang-kadang ia diam adanya. Dan akhirnya, laki-laki itu mengenalku.

Share: