Richard (diperankan oleh Gading Marten) bangun kesiangan, masih cawetan, mencoba menggugah kembali nyawanya dengan ngolet dan beberapa kali menguap dengan wagu, sesekali menggaruk pantatnya, berjalan ke luar pintu di lantai atas rumahnya, menengok dan menyapa satu dua tetangganya, lalu kembali ke dalam untuk menyapa peliharaannya, Kelun (diperankan oleh kura-kura dewasa).

Kasihan Richard. Dia jomblo. Dia ditantang temannya untuk membawa kekasih ke suatu pesta. Sudah berumur masih saja sendiri. Memalukan! Sudah berumur masih fokus soal kerja doang. Mengerikan!

Richard sebenarnya pede-pede saja hidup menjomblo meski karirnya di bidang percetakan nggak besar-besar amat. Lantas, gimana Richard mencari kekasih sebagai tanggapan tantangan temannya? Caranya memang kelewat wagu. Gara-gara ada konsumen di percetakannya yang nyetak brosur tentang jasa mencari teman kencan, Richard pun kepincut.

Begitulah perayaan jomblo untuk Richard—kata ‘perayaan’ bisa diselarasmaknakan dengan ungkapan ‘jomblo itu fana, punya kekasih barang sebentar itu ena’. Richard memilih untuk menyewa perempuan dari aplikasi kencan ketimbang menghubungi teman perempuannya. Awalnya, Richard merayu-rayu staf perempuan yang bekerja di percetakannya. Karena si perempuan dianggap ‘ember’ oleh Richard, Richard memecatnya. Sungguh tidak aduhai perpisahan itu…

Aplikasi kencan menjembatani Richard untuk bertemu dengan Arini (diperankan oleh Della Dartyan). Arini murah hati, cantik, langsing, kecoklatan, murah senyum, paham bola, dan jago masak. Pokoknya, sebagai penonton, saya menganggap bahwa Arini nggak cocok dengan Richard yang kelewat bodoh memakai aplikasi: Richard menyelesaikan jadwal kencan padahal transaksi awalnya berminggu-minggu. Bukan semalam doang. Akhirnya, Arini mbenger-mbenger di dalam mobil taksi, deh. Katanya, Arini ikutan aplikasi kencan itu untuk biaya hidup keluarga di desa yang nggak kaya raya.

Ya, sudah, deh. Richard pun mengalami masa-masa hidup serumah dengan seorang perempuan yang dikenal melalui aplikasi kencan. Makan dibuatkan, nonton bola ditemani, curhat sana-sini, dan bercinta pun diladeni. Dikatakan kawin kontrak, mungkin iya, mungkin tidaknya. Bagian tidaknya adalah dengan tidak dianggapnya Arini sebagai istri bagi Richard, dan sebaliknya. Bagian iyanya, pembaca yang budiman pasti tahu sendiri.

Ada satu adegan yang menyebalkan bagi film drama-romantis-dewasa ini. Saat Richard mencari-cari Arini dengan enerjik, nyatanya, di kediaman Arini (sebelumnya pernah dikunjungi Richard), Richard bertemu sesosok sutradara yang berlagak wagu setelah kebingungan ditanya-tanya oleh Richard. Richard juga bertemu ayah Arini yang entah pikun secara realis atau lupa secara dramatis.

Sebagai penyuka film Her (2013), saya sedih ketika film Love for Sale ini dimirip-miripkan dengan Her. Memang, sama-sama tentang jomblo yang merayakan kejombloannya dengan wagu—sewagu-wagunya. Tapi, penonton yang cermat bisa membedakan mana yang lebih cupu dari masing-masing aktor utama.

Share: