mantan-psikologi-ugm

PSIKOLOGI

Ditorehkannya luka, dan mukanya gamang tak keruan. Keringatnya mengucur bukan lantaran makan makanan pedas dan manis atau pedas manis—itu kegemarannya yang sebenarnya tidak begitu perlu kau ketahui.

Orangnya sangat prestatif, dan aku menganggapnya sebagai orang yang banyak prestasinya, dan orang-orang (termasuk kawan-kawanku) akan bertepuk tangan kalau saja ia mau berpidato panjang lebar tentang perjalanan panjangnya mencari hadiah. Eh, maksudku, mencari banyak prestasi itu.

Kira-kira, kalau tidak salah, hmm, kalau aku benar: lima tahun lalu tangan kanannya mudah letih untuk menulis dengan bolpoin hitam murahan. Lima tahun lalu, banyak bolpoin hadiah kakak angkatan yang ia dapatkan dan ia akan bosan jika dalam setengah semester ia dipaksa menggarap 31 kuesioner psikologis (psikologis, simbahmu!); lagian, hadiah skripsi itu gampang sekali hilang dan ngadat jika dipakai. Lupakan soal hal-hal aneh lima tahun lalu tentangnya. Kali ini, ada yang lebih serius. Lima tahun lalu, ia punya pacar, sobat!

Lima tahun lalu, tangan kanannya pernah menggenggam tangan kiri pacarnya. Menggenggam erat-erat, tidak seperti anak kecil menggenggam tali yang diikat pada balon gas yang bisa melayang ke langit meski kurang dari sehari bakalan kisut seperti mangga yang belum matang milik tetanggamu atau seperti bola kasti yang genjo gara-gara diinjak traktor sawah selama seperempat jam.

Ya ampun, lima tahun setelah lima tahun lalu, aku bisa muntah bohong-bohongan jika mengingatnya. Aneh, lho, cara menggenggamnya itu… Ya ampun, tulang-tulang di punggung tangannya itu seperti mau keluar, seperti monster. Tapi, mungkin, pacarnya suka. Suka? Suka sekali. Suka apa? Suka digenggam, erat-erat. Selain itu, kenapa suka? Ya karena ia pacarnya, ia kekasihnya. Ya ampun, aku yang tidak punya kekasih saja tidak akan menggenggam tangan calon kekasihku seperti itu. Diremet, bahasa Jawanya!

Durasi pacarannya tidak lebih dari lima tahun. Setahun saja tidak. Tapi, sebulan lebih. Yang paling aku ingat, selain cara menggenggam tangan yang aneh, adalah cara mereka jalan bareng. Entah dari parkiran ke gedung kuliah, atau gedung kuliah ke parkiran, atau waktu jalan ke kantin. Aku hanya ingat tiga jalur jalan barengnya. Mungkin kawanku yang lain (yang lebih akrab dengannya) lebih tahu tentang jalur jalan bareng mereka. Dan yang terpapar di memoriku soal jalan barengnya yang tak kalah menggelikannya itu adalah mereka selalu berjalan dalam langkahnya yang senada. Kaki kanan-kaki kanan, kaki kiri-kaki kiri. Jarang sekali aku melihat dua orang yang gandengan bisa seiring gitu kakinya. Mirip pasukan-kibar-bendera yang kaki-kakinya saling beriringan. Bedanya, pasukan-kibar-bendera itu tidak saling menggenggam tangan, kan? Nanti di-geplak sama pembina upacara, dong! Berabe betul.

Ditorehkannya luka, dan mukanya gamang tak keruan. Keringatnya yang mengucur segera ia basuh dengan tisu kering. Pada tanggal 20 Desember 2018, aku menemuinya dalam keadaan yang berbeda dari waktu dulu, waktu lima tahun lalu. Bisa dikatakan, ia itu bangsat beriman. Ia gonta-ganti pacar setelah putus dengan pacarnya yang lima tahun lalu pernah ia genggam dengan erat-erat. Aku tidak kaget ketika ia bilang ia benci pacarnya yang dulu, ia unfollow semua medsosnya, dan di-unfolback juga. Ia juga cerita padaku, pacarnya yang sekarang mirip dengan pacarnya lima tahun lalu. Bedanya, yang sekarang lebih tinggi. Aku diperlihatkan foto pacarnya yang sekarang. Iyuh betul saat ia melihat foto pacarnya mengenakan pakaian adat Jawa di semak-semak. Aku minta lihat foto yang lain, eh, ia malah bilang kepadaku, “Kamu naksir?”

“Gundulmu naksir!”

Lagi-lagi, iyuh betul melihat foto pacarnya mengenakan pakaian adat Jawa di pinggir sungai sambil mencelupkan jemari kakinya ke air sungai dan tangan kanannya menghalangi sinar matahari agar tidak kena wajahnya.

“Gimana? Kamu naksir, kan? Jujur aja!”

“Jujur gundulmu!”

Untuk yang ketiga kalinya, ia akhirnya memperlihatkanku foto pacarnya yang sekarang. Kali ini, ada sosok mereka berdua. Aku pikir itu foto mereka saat menghadiri suatu pesta kawin. Ia pakai batik merah tua dan pacarnya pakai kebaya emas keunguan (agak susah menjelaskan warna apa yang dikenakan pacarnya itu). Dan, astaga naga… Tangan mereka itu! Kawanku ini kena sindrom apa, ya? Cara menggenggam itu… Gimana ya menjelaskannya? Jadi, mereka berdua menghadap ke kamera, saling tersenyum, kemudian, tergambar jelas bahwa tangan kanan kawanku ini menggenggam tangan kiri pacarnya, dan ia mendekatkan genggaman itu ke barang berharganya. Kau tidak perlu tanya lagi terkait barang berharga, sobat!

“Aku tahu kenapa kamu gonta-ganti pacar,” aku bilang begitu, tentu untuk niatan bercanda saja.

“Kenapa?” ia pun penasaran.

“Karena kamu saru!”

“Haa?”

“Lihat tanganmu di foto itu!”

“Cuuuuuukkkkk!!!”


Selanjutnya: SMA 6

Share: