mantan-teman-SMA-6

SMA 6

Cara menembak yang buruk akan membuahkan cara putus yang buruk. Dan cara menembaknya saja sudah buruk sejak awal: ia membawa setangkai mawar putih dan setangkai mawar merah dalam satu genggaman di tangan kanan, ada pun tangan kirinya menggenggam senjata. Jangan dibayangkan senjata yang ia bawa adalah senjata tajam atau pistol yang bisa mengoyak isi kepalamu meski kau tidak kenal orang ini dan sebaliknya. Orang ini membawa senjata mutakhir: puisi!

Orang ini tidak begitu kenal denganku juga. Tapi, yang ia tembak adalah temanku. Andai Jason Ranti datang lebih awal di tahun 2011 dan aku bisa memberinya tautan salah satu lagu yang punya lirik “Perut kosong mana mempan dikasih puisi”, pasti orang ini akan menyimpan puisinya dan mengganti senjatanya dengan barang lain. Jangan bilang novel! Itu media penembakan yang lebih buruk.

Hampir setengah murid di kelasku mengetahui cara menembaknya yang buruk itu. Aku anak IPA; orang ini IPS; yang ditembak sekelas denganku. Entah berapa orang yang sudah dijejalkan uang atau roti-rotian agar turut memeriahkan acara penembakan yang buruk itu. Waktu istirahat, orang ini menghampiri meja temanku. Demi apa? Orang ini berlutut, mengangkat tangan kanan beserta dua tangkai mawar yang beda warna, dan mawar-mawar itu berpindah tangan. Sorak-sorai terdengar tidak ikhlas dari teman-teman sekelas.

“Ciye!”, “Jiye!”, “Cie-cie!”, “Jiyeeeh!”, dan “Xie-xie!” membumbung sampai murid-murid yang berseliweran di depan ruang kelas mampir menengok ke dalam ruang kelas. Yang paling geli pun dimulai. Orang ini mulai membuka kertas yang tertulis puisinya. Yang ditembak, selain tersipu, mengeluarkan ponselnya dan merekamnya.

Begini puisinya:

Ada kata dalam cahaya
Juga milikmu yang terpancar cinta
Waktu takkan bisa menjawab
Kepadamu, aku ingin berkasih

Tepuk tangan menggema di ruang kelas. Beberapa murid laki-laki memilih anteng. Tidak seperti murid-murid perempuan, hampir semuanya teriak, “Te-ri-ma! Te-ri-ma! Te-ri-ma!”

Pada tanggal itu, mereka resmi berpacaran dan orang ini adalah satu-satunya murid kelas lain yang rajin mampir ke kelasku. Bulan pertama, teman-teman sekelas gemar menciye-ciye orang ini dan pacarnya. Bulan kedua dan seterusnya, sudah tidak. Aku rasa kalau bukan karena sudah malas menciye-ciye, pasti karena sudah mengetahui ada yang lebih penting daripada sekadar menciye-ciye.

Cara berpacaran mereka, kalau dilihat-lihat dan ditelaah baik-baik, memang biasa-biasa saja. Hanya saja, cara putusnya terlihat dramatis—sesungguhnya kata ‘buruk’ layak menggantikan kata ‘dramatis’.

Orang ini mengejar-ngejar pacarnya yang kemudian akan disebutnya sebagai mantan. Dari kantin sampai ruang kelas. Jaraknya, kalau jalan kaki santai, bisa memakan waktu sekitar 1 menit. Tapi, karena waktu itu terjadi kejar-kejaran, orang ini sampai ruang kelas pacarnya kurang dari 30 detik; pacarnya lebih dulu sampai sebab ia yang dikejar.

Aku duduk di kelas dan sedang main gim di website Games.co.id bersama kawan baikku. Kami berdua kaget melihat orang ini tergopoh masuk ke ruang kelas. Ngos-ngosannya memang tidak terdengar di telingaku, tetapi keringatnya terlihat mengucur dan membasahi seragam sekolah. Dasar puber!

Aku menekan tombol jeda pada gim yang sedang aku mainkan. Kawan baikku pamit ke kamar mandi. Aku memutar posisi badanku untuk melihat apa yang akan terjadi pada dua murid yang tadi lari-larian. Ah, mereka tidak ngomong apa-apa! Yang perempuan duduk, bersedekap, menundukkan kepalanya, dan isaknya disembunyikan; sementara yang laki-laki duduk di sampingnya, mengecek ponselnya, dan masih ngos-ngosan, dan sedikit-sedikit melirik ke arahku. Sial!

“Kita putus!” teriakan datang begitu saja, bukan dari mulut orang ini. Kau tahu maksudku, kan.

“Oke. Fine!” teriakan balasan datang dari orang ini.

Ternyata, acara Katakan Putus yang ada di TV itu menginspirasi peristiwa putus di dunia nyata. Semoga aku terlindung dari kejadian serupa…

Yang lebih dramatis lagi—sekali lagi, kata ‘buruk’ layak menggantikan kata ‘dramatis’—adalah saat orang ini mengirimkan puisi-puisi patah hati ke klub jurnalistik sekolah. Harapannya, tentu hanya satu, yakni dimuat dan kelak dibagikan ke semua murid. Aku bukan anggota klub jurnalistik sekolah. Namun, aku kerap dimintai tolong beberapa anggota klub jurnalistik itu untuk menilai mana puisi yang layak muat dan mana yang layak bakar. Dan waktu itu, hanya puisi orang ini yang dikirim. Aku sempat bilang ke redakturnya, bagaimana kalau aku buatkan puisi saja. Mereka justru menolak. Alasannya cukup berterima: puisiku sudah lebih dari tiga kali dimuat. Saat aku menyarankan agar puisi tetap kutulis tapi dengan nama pena, mereka teguh menolak. Alasannya tidak bisa aku terima: mereka tidak mau melanggar kode etik. Aku ingin mendebat mereka dengan menyebutkan nama pena penulis tersohor seperti Tere Liye atau Dee, tapi aku mengurungkan sebab aku bukanlah anggota klub jurnalistik sekolah. Dan puisi orang ini pun akhirnya dimuat.

Begini puisinya:

HARI TANPAMU

Hampa tanpamu
Tidak ada lagi cahaya di hari tanpamu
Amarah, aku dan kamu
Tidak ada kata cinta di hari tanpamu
Tamat

Astaga naga, puisi itu tidak lebih bagus dari puisi yang pernah ia bacakan saat menembak. Hari tanpamu? Apa-apaan…


Sebelumnya: PSIKOLOGI

Selanjutnya: SMP di Depok

Share: