mantan-teman-smp-depok

SMP di Depok

Keajaiban tetap punya batas. Termasuk kawanku yang terlampaui indie ini punya kekasih yang terlampaui non-indie. Dulu, kira-kira tahun 2008 (itu artinya: 10 tahun yang lalu!), kawanku ini yang membisikkan padaku keras-keras bahwa Superman Is Dead (SID) lebih keren dibanding band rock yang pernah didengar. Aku skeptis. Wah, skeptis di umur SMP adalah keganjilanku, ya? Aku bilang aku suka Simple Plan. Dia menyeringai lalu bilang, “Itu band pop!”

Lain hari, lain bisikan. Kawanku ini mengirimkan lagu-lagu blink 182 yang, katanya, belum pernah aku dengar. Betul juga. Ini cukup oke, kataku. “Sudah waktunya kamu berhenti suka Simple Plan, Sev!” timpalnya.

(Aku tidak berhenti menyukai Simple Plan meski lagu Jet Lag adalah lagu yang buruk. Aku suka Simple Plan sebatas perempuan yang tidak jadi satu SMA denganku juga menyukai Simple Plan—beruntungnya tidak menjadi follower Instagramku. Masa silam adalah masa-masa menunggu ekstrakurikuler tonti dengan menyanyikan I’m Just A Kid, I’d Do Anything, Untitled, dan favoritnya adalah Perfect. Karena terlalu dekat, kami tidak berpacaran—seperti bunyi pepatah digdaya di film Pengabdi Setan.)

Kawanku tidak pernah bilang siapa-siapa bahwa dia (pertama kalinya) pacaran dengan perempuan berinisial I dan beda kelas dengannya. I adalah tipikal perempuan pada umumnya di SMP kami di Depok. Ia menyukai band pop, cenderung rebel, dan tidak ada yang menyangka kalau hari itu ia menjadi pacar kawanku yang menyukai band-band indie.

Suatu waktu, kalau tidak salah ingat saat pelajaran olahraga, sambil menunggu giliran roll depan dan roll belakang, aku tanya ke kawanku, “Kamu ngajarin I biar suka SID, nggak?”

“Ya, iya!” serunya tapi dengan bisikan. Kawanku takut jika ada kawan lain mendengar.

“Dia suka SKJ’94, bro. Di helmnya, ada stiker SKJ’94. Piye, jal?” pertanyaanku cukup memantik kawanku, mengetes apakah dia indie garis keras atau indie-pop yang penuh keraguan.

“Aku berdoa supaya Tuhan menjauhkannya dari lagu band-band senam…,” jawaban dan tawanya pecah bersamaan.

Sebab keajaiban tetap punya batas, kawanku putus gara-gara masalah sepele: ia tidak mau pergi ke Ambarukmo Plaza bareng I dan teman-teman I. Rada sedih juga mendengar cerita kawanku putus beberapa hari setelah terima-rapor. Kami sama-sama naik kelas, kok. Aku tidak lagi sekelas dengannya. Tetapi, kemudian aku sekelas dengan I—mantan kekasihnya.

Dua bulan setelah terima rapor, atau pada bulan pertama aku sekelas dengan I, I bilang kepadaku, “Aku masih sayang sama temenmu, Sev.”


Sebelumnya: SMA 6

Sebelum sebelumnya: PSIKOLOGI 

Share: