MANUSIA yang berkomitmen amanah migunani

Siapa yang sudah sering berkomitmen? Manusia hidup di dunia ditantang dengan banyak komitmen. Mau atau menolak? Jual atau beli atau tawar dulu? Atau diabaikan?

Pengambilan keputusan beberapa detik bisa berpengaruh untuk masa-masa ke depan yang bukan hanya dialami kurang dari waktu ketika mengambil keputusan. Ada banyak kenangan, juga banyak duka. Termasuk ketika ingin menulis atau tidak. Ingin melanjutkan kuliah di UGM atau di Amerika Serikat atau tidak kuliah sama sekali. Ingin manggung atau tidak. Ingin standup atau cukup menonton. Ingin berjuang atau tidak. Itulah kehidupan, yang penuh dengan tantangan bergejolak. Yang penuh dengan kebimbangan untuk memilih.

Kata ’harus’ merupakan bentuk dari suatu kewajiban. Sedangkan, kata ‘perlu’ ialah bentuk dari suatu kepentingan. ‘Saya harus menjadi presiden Indonesia 20 tahun lagi’ berbeda makna dengan kalimat ‘Saya perlu menjadi presiden Indonesia 20 tahun lagi.’ Resapilah saja. ‘Perlu’ memiliki arti yang berdekatan dengan dibutuhkan. ‘Harus’ lebih berdekatan ke arah membutuhkan dalam tingkat diri sendiri. Pendeknya, bisa dilihat dari dampak. Kamu harus masuk UGM. Jika nyatanya nanti tidak masuk, boleh jadi kesedihannya akan berbeda dengan pergantian kalimat ‘Kamu perlu menjadi mahasiswa UGM’.

Alih-alih soal komitmen, banyak perasaan yang tidak bisa dirasakan sekejap untuk persoalan menjadi penanggung jawab. Orang-orang yang baik sering menyebutnya sebagai amanah. Oi, amanah itu datangnya sejak lahir. Manusia perlu menjadi manusia yang baik. Saya merasa takkan ada seseorang yang umurnya lebih dari tujuhbelas tahun yang tidak pernah diberi amanah. Orangtua menyuruh anaknya untuk membelikan bahan makanan di warung, itu salahsatu contoh suatu amanah bagi anak.

Amanah juga bisa diberi dari diri sendiri. Pahami, setiap orang punya cita-cita. Cita-cita yang baik dikejar dengan cara yang baik. Mengikat amanah diri sendiri adalah dengan mengejar cita-cita yang didambakan dengan cara yang baik. Kalaupun ada cita-cita yang baik tetapi di tengah-tengah dalam meraihnya terdapat cara yang buruk maka itulah yang disebut dengan merusak amanah. Tidak berperikekomitmenan terhadap diri sendiri. Huft…

Salahsatu amanah bagi semua manusia yang sering saya pikirkan adalah migunani. Menjadi yang bermanfaat, melakukan yang bermanfaat, dan mempengaruhi agar yang lain menjadi bermanfaat. Semuanya soal bermanfaat. Semuanya bukan soal dimanfaatkan yang lebih cenderung mengandung arti kurang baik bagi kalangan manusia.

Dalam ber-migunani, banyak resah yang muncul dari pikiran saya dan manusia lainnya. Seriusan mau turun tangan? Yakin kamu mampu membantu? Seberapa besar keinginanmu melayani masyarakat atau sebagian kecilnya? Ah, pencitraan! Ah, sok-sokan! Ah, gila lu, sob!

Mari jernihkan pikiran. Kita tidak perlu menjadi yang terbaik, kawan. Kita perlu berbuat yang terbaik. Buat masyarakat, buat anak-anak, buat kawan-kawan yang membutuhkan, buat kerumunan yang membutuhkan inspirasi dan motivasi, dan tentunya buat diri sendiri. Aduhai, siapapun mereka yang ngerasani atau mengejek kebaikan, maka biarkanlah. Maka mulailah mulai ber-migunani.

Satu hal terakhir, “Saya takut kalau nanti saya sudah tidak bisa ber-migunani.”

Salam hangat and cheers.

0907.2014, malam hari.

Share: