Melihat posternya: seorang perempuan berambut panjang menaiki kuda coklat di jalanan gersang, beserta menilik judulnya: Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (judul internasionalnya: Marlina The Murderer in Four Acts), saya memiliki prediksi bahwa ini adalah film koboi a la Texas dan memiliki rasa-rasa puitis. Bedanya dengan film koboi pada umumnya, saya mengira bahwa sang koboi akan diperankan seorang perempuan bernama Marlina. Ternyata bukan. Marlina adalah seorang janda yang hidup sendirian, mumi suaminya didudukkan di ruang utama rumahnya, anaknya yang sekadar berusia sekian bulan dikuburkan di depan rumahnya.

Masih dari penilaian terhadap poster, terpampang jelas logo Quinzaine di bagian tengah agak bawah poster. Saya berekspektasi sebelum menonton: ini pasti film keren nan filosofis, sebab ia telah lolos kategori Quinzaine atau Director’s Fortnight, sebuah kategori di Festival Film Cannes, Perancis. Memang tidak seheboh atau seterkenal Palme D’Or. Tapi, sebagai rakyat Indonesia, saya patut berbangga. Ini film panjang yang kembali mengangkat marwah sinema Indonesia di Cannes. Sebelum Marlina yang tampil di Cannes, adalah film Serambi (2006) karya Garin Nugroho yang melawat ke Cannes. Menunggu 11 tahun memang bukan waktu yang sebentar.

Seperti judulnya, film ini secara eksplisit menampilkan teks di setiap permulaan babak, mulai dari Babak 1 (ACT I) sampai Babak 4 (ACT IV): The Robbery, The Journey, The Confession, dan The Birth. Serupa dengan narasi-narasi arus utama yang berpola tiga babak, film ini menempatkan babak empat sebagai permulaan balik. The Birth adalah simbol yang bisa ditangkap dan dialog babak empat itu menjadi callback atas babak satu.

“Kau adalah perempuan paling beruntung,” ujar Markus. “Malam ini kau beruntung mendapat bonus tujuh laki-laki.”

“Saya perempuan paling sial sudah malam ini,” bantah Marlina.

Kalau mau dikatakan sebagai film yang mengangkat isu sosial atau feminis, sepertinya benar juga. Namun, tanpa gagasan yang berat, Marlina tetap tersaji dengan sederhana. Kesederhanaan itu tercermin dari reaksi Marlina. Terancam dirampas hartanya dan diperkosa, ia cari celah dengan menyiapkan masakan mematikan untuk tamu non-utamanya. Terlanjur dirampas harga dirinya dan gagal meracuni tamu utamanya, ia cari sajam untuk memenggal kepala Markus, tamu utamanya, bahkan ketika ia sedang meladeni nafsu di atas kasur.

Mouly Surya, selaku sutradara, seolah-olah ingin berkata, “Dunia ini tetap akan baik-baik saja tanpa kalian, wahai laki-laki—bujangan atau tak bujangan. Kami—para perempuan—lebih mampu merawat bumi dan lebih paham soal hidup. Jangan atur kami, atau lebih baik, kami racuni dan kami penggal kepalamu!”

Selain para tamu yang tidak berguna, film ini sangat kritis dengan pihak aparat. Babak 3 menjadi pengakuan Marlina di hadapan polisi. Marlina terpaksa menunggu polisi yang sedang pingpong-an. Tatkala ia mengaku telah dicuri, polisi bertanya detil sambil mengetik laporan tentang perawakan pencurinya, barang yang dicuri, dan jumlah curiannya. Tatkala ia berujar bahwa para pencuri juga berhubungan intim, polisi justru berkata, “Tapi tidak jadi diperkosa, toh?” Dan sebelum ia ke luar kantor dan berkeluh tentang pencurian sekaligus pemerkosaan, polisi justru ganti berkeluh tentang repotnya visum, harus ke kota, harus cari dokter, dan harus-harus lainnya yang Marlina malas dengarkan.

Sosok keperempuanan Marlina diperkuat oleh karakter Novi. Dalam usia kehamilan yang haram-untuk-dikatakan-muda, ia khawatir apakah bayinya sungsang atau masih bisa dibilang normal. Meski bermain figuran, Novi seperti Marlina, ia sebenarnya tak butuh laki-laki. Ketika babak akhir bergulir, Novi menemui suaminya. Suaminya jengah, lantas ia tinggalkan istrinya (yang hamil besar!), ia jatuhkan pula agar istrinya tak mengejar.

Di akhir-akhir adegan, sebagai penonton laki-laki, saya berharap pada Franz, satu pencuri yang masih hidup untuk menyelamatkan hidup Marlina dan Novi. Tapi, binalnya, Franz yang hadir di Babak 4, secara utuh menjadi callback atas Markus di Babak 1. Markus yang awalnya ditanya Marlina mau makan apa, kini Franz ditanya Novi mau makan apa. Franz memerintah Novi yang memasak karena Franz hendak berintim dengan Marlina. Di saat Novi memasak, ia mendengar teriakan Marlina. Telinga dan batin Novi seolah tak tahan: bersegeralah ia menuju kamar Marlina, membawa sajam, mengarahkan sajam ke leher Franz. Dan waktu melahirkan bayi pun dimulai. Marlina membantunya.

(Saya menitikkan air mata, menahan-nahannya agar tidak tumpah ruah. Saya membatin, apakah ibu saya segigih ini waktu ia melahirkanku. Apakah kelahiran saya merepotkannya?)

Saya juga bertanya-tanya ketika bayi Novi telah ke luar dari rahimnya. Siapa… Siapa yang Novi lahirkan? Seorang perempuan? Atau…, seorang calon bajingan?


Tiga kata terakhir pada judul ini merupakan cuplikan lirik OST. Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak yang dinyanyikan Cholil Mahmud, vokalis Efek Rumah Kaca.

Share: