COMmon sense COMedy

 

Common sense, bagi saya, adalah suatu keresahan yang digagas sebelum menggapai pengujian signifikansi kebenarannya.

Contoh: Sinetron Indosiyar bisa menyebabkan Anda menjadi orang yang kreatif, penuh imajinasi, dan kaya visual. Bermain-main Facebook berjam-jam akan menunda kesuksesan Anda dan melemahkan kemampuan berbicara. Bermain-main Twitter hanya untuk mencari follower akan menjadikan Anda lebih populer, disegani berbagai kalangan, dan dipermudah menjadi selebriti.

Comedy, bagi saya, adalah suatu kegelisahan yang disampaikan tidak sesuai ekspektasi dan di-delivery dengan khas sesuai persona.

Misal:

Adanya percakapan antara siswa baru SMA Negeri 6,6 Yogyakarta dengan anak Gangster Namkomanam Jogja (GNJ) di bawah pohon cemara, seperti ini:

Sevma (siswa baru) : “Mas, mas, boleh gabung GNJ?”

Mas GNJ : “Maksud lo apaan woy?”

Sevma : “Saya mau ndaftar jadi anggpta GNJ, mas? Boleh minta formulirnya?”

Mas GNJ : “Lo pikir kita ngadain oprec? Woy asal lo tau, kita bukan rohis, OSIS, BEM KM, apalagi organisasi kampret yang lain… We’re gangster yoowww!! G-N-J yooww!”

Sevma : “Oh, yaudah. Maaf, mas. Saya nggak jadi ikut.”

Mas GNJ : “Yaudah sana lo… Eh… tapi sini bentar, dik. Mau beli stiker Namkomanam nggak? Murah dik, 1000 dapet satu, 2000 dapet 3. Kalau 10000 dapet semua bonus cinta dari saya…”

 

Memasukkan common sense dalam comedy adalah kewajaran. Hal-hal umum yang terjadi di sekitar menjadi polemik yang selalu bisa diolah menjadi komedi. Komedi tidak menuntut tawa, common sense juga tidak mengharuskan menjadi scientific sense atau moral sense.

 

Digarap sambil agak resah mengenai kondisi sekolah yang masih ada gangsternya. Ditambah, gangster yang ada tidak mau menjadikan saya menjadi anggotanya. Gara-gara, saya itu cemen.

0911.2014

Share: