Sejak saya kecil, saya tak pernah masuk rumah itu. Rumah yang cukup besar. Pintu gerbangnya bisa dimasuki 3 mobil bersamaan. Halaman rumahnya bisa dipakai beraneka kegiatan olahraga. Belum lagi garasi luar sekaligus garasi dalam. Panorama di muka rumah itu selalu mengiangkan saya pada rumah-rumah yang sering ditayangkan di sinema elektronik di kanal Indosiar.

Di akhir bulan Ramadan, saya diberi kesempatan memasuki rumah itu. Saya memasukinya saat mata saya tertutup, terlelap, tertidur. Seingat saya, ada seorang kawan yang menemani saya masuk. Kami naik motor dan diparkir di depan teras rumah. Ubin rumahnya coklat kemerahan. Tiang-tiang penyangga berwarna krem, meski dari jauh tampaknya putih bersih.

Tidak ada siapa-siapa di dalam rumah. Dugaan teman-teman masa kecil muncul: rumah besar ini dijaga oleh seorang tetangga lain RT. Tidak setiap hari ia membersihkan rumah itu. Sesempatnya.

Sewaktu saya naik ke teras rumah, seorang perempuan berjilbab (saya sangka umurnya sepantaran saya) datang. Ia mengaku pemilik rumah dan saya percaya-percaya saja. Ia membuka pintu rumah itu. Saya mengikuti langkahnya, memasuki ruangan dalamnya. Saya tidak celingukan. Isi perabotan rumahnya tidak jauh berbeda dengan rumah saya di Kalasan. Tetapi bila diperhitungkan dan diuangkan, rumah besar ini lebih menjanjikan bila diwariskan dan lebih mahal tentunya.

Karena di dalam tidak ada suguhan, kami ke luar ruang tamu. Kembali ke teras dengan ubin yang saya yakini berefek kekunoan. Perempuan itu mungkin banyak menjelaskan perkara tentang rumah besarnya, tapi saya kadung tidak mendengarkannya dengan saksama. Teman saya takzim memperhatikannya (mungkin mereka cocok untuk segera melangsungkan mahligai pernikahan? Tapi, bukannya terlalu terburu-buru?). Panjang lebar mereka bicara sambil berdiri. Saya juga berdiri. Dan ketika waktu sholat datang, kami memilih tidak pulang langsungan. Perempuan itu mengajak sholat berjamaah di rumahnya.

Ada yang aneh di ending ini.

Bukannya menginstruksikan kami dan dia sholat di musholla rumah atau di dalam ruangan yang lain, perempuan itu melangsungkan sholat dengan kami di teras rumah. Saya tidak jadi imam sholat. Ubin teras sama dinginnya dengan ubin masjid kampus.

Sinar matahari yang masih terang alias belum pergi tenggelam menjadi alasan pamit meninggalkan rumah besar itu.

Saat lebaran tiba, saya melewati rumah besar itu (tanpa keadaan terlelap maupun tertidur) dan melihat dua orang berlainan jenis kelamin (kira-kira usianya lebih dari 40 tahun) berjalan dari garasi luar ke halaman rumah, dan langkahnya seperti mengarah ke luar halaman. Perempuan itu berkerudung, sedang laki-lakinya berkemeja rapi dan bercelana kain formal.

Saya bertanya-tanya, siapa sih mereka?

Share: