Film adalah caramu melampiaskan keresahan. Kejengahan. Bahkan, kalau perlu, film bisa mengajakmu bermain-main soal tafsir hidup. Film, dalam batasan yang tidak menentu, akan menyayatmu perlahan-lahan. Tepat di pikiran dan jantungmu sekaligus.

Tidak tepat seperti itulah Ismail Basbeth mau bersuara tentang hal-hal tak remeh di Indonesia. Lewat Mobil Bekas dan Kisah-kisah dalam Putaran (2017), ia buat hal yang simbolik. Jelas, ia mencari kritik, meski produksi film ini dibuat dalam rangka piknik bersama.

Secara total durasi, jangan sebut ini sebagai omnibus. Meski terpotong-potong, mobil bekas akan hadir. Hadirnya ya di sekitaran kisah-kisah dalam putaran, di sekelilingmu dan sekelilingku. Termasuk akan sekadar lewat di jalanan desa yang juga dilewati dua petani yang mau protes ke kota.

Kisah dalam putaran itu dimulai dari upload­-an penggalan video sekian detik tentang protes petani. Secara patah-patah, perjalanan petani menuju ke depan gerbang kantor pemerintahan daerah akan nyempil menjembatani kisah si mobil bekas.

Mobil bekas itu adalah Jip Willys, hijau, dan tidak begitu usang. Seorang laki-laki menyimpannya di garasi dan ia sangat mencintainya. Pelampiasan yang menyeruak batin penonton adalah ketika si laki-laki ini bercinta dengan mobil bekas. Banal.

Di lain kisah, akan kita saksikan cerewet panjang tiga gadis kekinian naik mobil bekas itu. Katakanlah, mereka sedang berlibur, melewati pedesaan, dan sawah adalah pemandangan yang menghiasi latar mereka. Entah karena capai bertingkah cerewet atau hendak istirahat, mereka bernyanyi di suatu depot keliling.

Kisah-kisah dalam putaran masih berputar. Ada seorang perempuan muda dengan laki-laki berperawakan layaknya konglomerat yang hidup sunyi: mereka berlibur di kebun binatang dan menaiki kereta keliling, lalu mencoba masuk dan keluar dari goa yang ada di kebun binatang, dan akhirnya, pada suatu malam, si perempuan membunuh (dengan kejam) si konglomerat itu saat tertidur menghadap ke atas.

Ada pula seorang perempuan yang jengah akan hidupnya, namanya Suci dan ia ingin suci. Ada nelayan yang menghentikan kendaraan pick-up roda tiganya dan berniat menolong perempuan yang terkujur di belukar—parahnya, ia memilih bersetubuh.

Yang terakhir, seorang perempuan kewalahan dengan mobil bekas yang ngadat. Ia sendirian di malam hari dan tidak ada yang seliweran di jalan itu. Sosok laki-laki botak yang lebih tua dari si perempuan tiba-tiba muncul di kursi sebelahnya. Ia turun dan sepertinya ia mengetahui masa lalu si perempuan itu.

Kembali ke kisah protes petani, dua petani dihajar bertubi-tubi lalu diculik oleh sehimpun semacam orang-orang-tak-dikenal. Dari seberang jalan, seorang wartawan yang sebelumnya membantu protes petani menjepret gambar-gambar penghajaran petani itu.

Mengerikan memang. Tapi tanpa perlu mendramatisir, begitulah kiranya sutradara ingin menyampaikan visinya. Indonesia yang carut-marut. Indonesia yang masih ada di sekitarmu, dan sekitarku. Di seputar kita.

Share: