SAKIT! Entah untuk tokoh-tokoh utama kita, atau boleh juga untuk penulisnya. Kalau perlu, sematkan pula kepada pembaca-pembaca kita.

Satu kata nyentrik dari Paman Yusi di kumpulan cerpen ini yang berbekas di muatan memori saya adalah ‘aduhai’. Maksudnya ingin disepadankan dengan kata ‘hot’, ‘seksi’, ‘bohay’, atau ‘amboi’.

Baik, kita mulai ulasan ini dengan kisah yang paling saya favoritkan sekaligus paling menggeramkan dan menyayat (tear-jerking!). Judulnya ‘Pergi ke Malang’. Cerita tersebut mengandung genre thriller, tapi juga ada drama di segalanya. Cukup realis. Tapi juga cukup ndlogok!

Yang paling saya favoritkan urutan kedua judulnya ‘Pak Pendek Anggur Cap Orang Tua Terakhir di Dunia’. Saya, sebagai pembaca, acap membayangkan orang-orang unik yang kerap ada di sirkus atau di video iklan komersiil sekaligus.

‘Samsara’ cukup perih: tentang cara bertahan hidup dengan ikut gerakan radikal meski nasibnya di ombang-ambing antara kadang baik-baik saja dan kadang nahas. ‘b.u.d’ memberikan saya wawasan mengenai apa itu palindrom dan betapa menyenangkan mengenal palindrom-palindrom yang dibikin oleh Budi, tokoh utama kita.

Di antara cerita yang tidak begitu saya favoritkan tapi tetap saya anggap memiliki kekerenan sebagai cerita pendek yakni ‘Muslihat Musang Emas dan Elena’, ‘Alfion’, ‘Ia Pernah Membayangkan Ayahnya adalah Hengky Tornando’, ‘Benalu Tak Pernah Malu’, dan ‘Bangsawan Deli dan Delia’.

Share: